Luna Everard retweeted
ᅠ
After carefully matching her numbers to the corresponding lanterns, she gets to work on the parchment. It takes her a little while to put her thoughts together, but eventually, she manages to finish the task. “Professor, I'm done!” she says.
(@ProfsEverard)
ᅠ
Luna Everard retweeted
ㅤ
𝐅𝐈𝐑𝐒𝐓 𝐖𝐄𝐄𝐊
∙ Dark Path Number: bit.ly/AA-DPN-I
ㅤ
Luna Everard retweeted
⠀
📣
Telah dibuka lowongan untuk:
1. Librarian of Hogwarts
2. Professor of Beginner Arithmancy
3. Professor of Beginner Care of Magical Creatures
Details: linktr.ee/ah.recruitment
⠀⠀
Luna Everard retweeted
ᅠ
ᅠ
Ia hampir menjerit melihat bayangan hewan yang ia takuti itu ada di dinding.
ᅠ
"Um, seekor naga, seekor laba-laba besar, dan seorang berkerudung membungkuk? Ksatria sepertinya?" jawabnya mencoba menebak. nitter.gq/ProfsEverard/status/21…
ᅠ
ᅠ
Replying to @ProfsEverard
ㅤ
Luna mengayunkan tongkatnya pelan. Di dinding, sayap lebar terbentang dan leher panjang melengkung dengan rahang terbuka. Menyusul sosok berkerudung yang membungkuk, lalu sesuatu berkaki banyak yang merayap di sudut.
“Coba tebak, apa saja yang kalian lihat di dinding itu?”
ㅤ
Luna Everard retweeted
ᅠ
ᅠ
Ia refleks menoleh saat lilin-lilin di koridor padam secara tiba-tiba. Matanya membulat dan segera berlari menghampiri ruang kelas. Pintunya sudah terbuka.
ᅠ
Ia berjalan masuk perlahan. Mengikuti instruksi, ia pun duduk di kursi itu. nitter.gq/ProfsEverard/status/21…
ᅠ
ᅠ
Replying to @ProfsEverard
ㅤ
Lilin-lilin di koridor lantai tiga padam satu per satu, seakan ada yang meniupnya dari kejauhan. Di balik pintu yang terbuka, gelap sudah menunggu. Kursi-kursi berjajar menghadap dinding batu yang kosong, dan satu-satunya cahaya datang dari anglo besi di belakangnya. Dari balik api, Luna menyapa dengan suara tenang.
“Selamat malam. Silakan duduk menghadap dinding, ya. Untuk sementara, jangan menoleh ke belakang dulu sampai saya minta.”
ㅤ

ALT A dimly lit, Arithmancy classroom featuring rows of wooden chairs facing a large, blank stone wall at the front. Arched, floor-to-ceiling bookcases filled with leather-bound tomes flank both sides, illuminated by candlelight, while a warm fire burns in an iron brazier in the foreground. © 2026 Luna Everard. All Rights Reserved.
Luna Everard retweeted
Mendengar suara profesornya, Aeden diam menuruti. Duduk rapi menghadap dinding. Ia menerka-nerka apa yang akan terjadi setelah ini. Penasaran dan sedikit khawatir. Suasana gelap membuatnya semakin deg-degan.
Replying to @ProfsEverard
ㅤ
Lilin-lilin di koridor lantai tiga padam satu per satu, seakan ada yang meniupnya dari kejauhan. Di balik pintu yang terbuka, gelap sudah menunggu. Kursi-kursi berjajar menghadap dinding batu yang kosong, dan satu-satunya cahaya datang dari anglo besi di belakangnya. Dari balik api, Luna menyapa dengan suara tenang.
“Selamat malam. Silakan duduk menghadap dinding, ya. Untuk sementara, jangan menoleh ke belakang dulu sampai saya minta.”
ㅤ

ALT A dimly lit, Arithmancy classroom featuring rows of wooden chairs facing a large, blank stone wall at the front. Arched, floor-to-ceiling bookcases filled with leather-bound tomes flank both sides, illuminated by candlelight, while a warm fire burns in an iron brazier in the foreground. © 2026 Luna Everard. All Rights Reserved.
Luna Everard retweeted
ᅠ
ᅠ
Ia berhasil menghitung semua marga tersebut dan kembali fokus mendengarkan penjelasan pengajarnya.
ᅠ
"Ah, direduksi jadi satu angka aja soalnya mencari pola bersama," gumamnya pelan.
ᅠ
ᅠ
Replying to @ProfsEverard
ㅤ
Luna mengetuk angka sepuluh di papan. “Perhatikan, di materi ini semua angka direduksi hingga bulat satu digit, termasuk sebelas menjadi angka dua, dan dua puluh dua menjadi empat. Nama keluarga dipakai bersama lintas generasi, jadi yang kita cari adalah pola bersama, bukan pola untuk satu individu saja.”
ㅤ
Luna Everard retweeted
ㅤ
𝐅𝐈𝐑𝐒𝐓 𝐖𝐄𝐄𝐊
∙ Ancestral Influences: bit.ly/AA-AI-I
ㅤ
Luna Everard retweeted
ㅤ
𝐒𝐄𝐂𝐎𝐍𝐃 𝐖𝐄𝐄𝐊
∙ Essence Cycles: bit.ly/AA-EC-II
ㅤ
Luna Everard retweeted
ㅤ
𝐀𝐑𝐈𝐓𝐇𝐌𝐀𝐍𝐂𝐘 𝐂𝐋𝐀𝐒𝐒
Saturday, 1st of August 2026.
—
@ProfsEverard
ㅤ
Luna Everard retweeted
⠀
⠀ ⠀ 🔔 thekusunoki started a live video.
⠀ ⠀ Watch it before it ends!
⠀⠀ ──────────────────
⠀⠀ ⠀
𝐓𝐇𝐄 𝐄𝐒𝐒𝐄𝐍𝐂𝐄 𝐂𝐘𝐂𝐋𝐄
🔴 𝙇𝙄𝙑𝙀 𝙊𝙉!
⠀
Luna Everard retweeted
Replying to @WarlockGrey @ProfsEverard
Luna Everard retweeted
Replying to @WarlockGrey @ProfsEverard
Setelah kalian cukup beristirahat, Christian mengeluarkan sebuah perkamen dari balik jubahnya, mengetuknya pelan dengan tongkat sihir. Perkamen itu menggandakan diri dan melayang turun ke hadapan masing-masing siswa. drive.google.com/file/d/1aWq…
Luna Everard retweeted
Replying to @ProfsEverard
“Get comfortable, let the butterbeer warm you up.” Christian menimpali santai. “I know it’s quite a lot to take in, being entirely on your own in the glen. Tell me, how did it go out there? Did the aloin give you a hard time?” Ia menyandarkan punggungnya sembari menatap antusias.
Luna Everard retweeted
Replying to @WarlockGrey @ProfsEverard
Setelah ditiriskan di dalam wadah dan kulitnya dibilas bersih di bawah aliran air, tak ada lagi kepahitan kuning yang menempel. Kalian bergeser menuju meja sterilisasi dengan alas potong khusus. Ujian paling rumit telah menanti.
Luna Everard retweeted
Replying to @WarlockGrey @ProfsEverard
Membiarkan getah kuning itu meracuni daging bening di baliknya adalah sebuah dosa besar di The Caledonian Glasshouse. Daun ini harus diposisikan vertikal dengan bekas sayatan menghadap ke bawah selama 15-30 menit, dan setelah itu wajib dibilas dengan air.
Luna Everard retweeted
Replying to @WarlockGrey @ProfsEverard
Saat kamu membungkuk di hadapan tanaman ini, ketelitianmu diuji. Targetmu adalah maksimal 2 hingga 3 pelepah daun terluar dan terbawah, membiarkan pusat pertumbuhan tanaman ini tak tersentuh.
Luna Everard retweeted
Replying to @WarlockGrey @ProfsEverard
Setibanya di salah satu bedeng tanaman yang belum tersentuh, keheningan sejenak menyelimuti kalian. Tidak semua daun boleh dipotong. Pendampingmu menghentikan langkah di depan sebuah bedeng, menatap hamparan daun yang masing-masing panjangnya mencapai 30–40 sentimeter itu.
Luna Everard retweeted
Replying to @ProfsEverard
Melangkah melewati ambang pintu The Caledonian Glasshouse ibarat memasuki dunia yang sepenuhnya berbeda. Suhu udara melonjak drastis. Hangat, pekat, bak memeluk kulit dengan kelembapan tinggi. Aroma tanah gembur yang basah turut memenuhi rongga dada.





























