Pinned Tweet
Segala yang hilang darimu akan kembali, sebagian dalam bentuk pelajaran dan sisanya kenangan.
__Psikologi Sufi
Kenyataan hidup, seringkali mengagetkan. Kadang membuatmu tersenyum, dan mungkin buatmu menangis. Namun apapun yang terjadi padamu, cara kamu menyikapi keadaan, merespon kenyataan, lebih penting dibandingkan kenyataan itu sendiri.
Psikologi Sufi retweeted
Saya berkesempatan berbincang dengan sivitas ITB, membahas tiga hal yang menurut saya akan sangat menentukan arah bangsa kita.
Yang pertama, pengelolaan sumber daya manusia. Saya sering merangkumnya dalam empat kata: train, gain, circulation, dan linkage.
Brain train berarti membangun talenta dari dalam. Dan di sinilah persoalan paling mendasar kita.
Di Asia Tenggara, 80 hingga 90% kepala rumah tangga tidak mengenyam pendidikan tinggi, sehingga stimulasi intelektual di rumah terbatas. Sekolah menjadi satu-satunya mesin yang bisa memicu disrupsi kognitif dalam skala besar, dan gurulah tuas utamanya. Tugas seorang guru tidak berhenti di mengajar rumus, ia harus bisa memantik imajinasi dan ambisi. Untuk itu, kita perlu keberanian seperti Singapura dan Korea Selatan, merekrut guru dari 5 hingga 20% lulusan terbaik dan menggajinya secara layak. Saat ini median gaji guru kita sekitar USD 257 sebulan, sementara Singapura hingga USD 4.413.
Brain gain dan brain circulation berarti keberanian membuka diri. Sepanjang sejarah, lompatan peradaban selalu lahir dari keterbukaan menyerap talenta dari luar, dari Bayt al-Hikmah di Baghdad, hingga kebijakan pintu terbuka Deng Xiaoping.
Sementara brain linkage berarti menyambungkan pendidikan dengan riset dan industri. Kita punya sekitar 8.000 universitas, tapi pada 2023 hanya menghasilkan 16 ribu paten. Tiongkok, dengan 2.600 universitas, menghasilkan 1,64 juta.
Yang kedua, kepemimpinan. Saya selalu kembali pada triad Lee Kuan Yew: kompetensi, integritas, dan akuntabilitas.
Persoalan banyak demokrasi di kawasan kita adalah menyeleksi talenta berdasarkan loyalitas dan patronase, bukan meritokrasi. Dan akuntabilitas yang sejati adalah akuntabilitas kepada rakyat, bukan kepada segelintir elite.
Demokrasi yang sesungguhnya diukur dari sejauh mana public goods, pendidikan, kesehatan, kepastian hukum, terdistribusi ke seluruh warga.
Yang ketiga, kecerdasan buatan dan segala paradoksnya. Ada tiga hal yang bisa kita soroti.
Soal energi, AI menuntut daya yang luar biasa besar, satu kueri ChatGPT butuh 10 hingga 50 kali energi pencarian biasa. Sementara elektrifikasi kita masih di kisaran 1.300 kWh per kapita, jauh di bawah ambang modernitas.
Soal kognisi, AI pada dasarnya adalah prediksi statistik yang rentan berhalusinasi, sehingga negara berkembang justru butuh model yang open-source dan terjangkau.
Dan soal akuntabilitas, ini yang paling penting: tanggung jawab tetap ada pada penggunanya, bukan pada mesinnya. Maka kita tidak boleh mendelegasikan cara berpikir, apalagi pengambilan keputusan, kepada sistem otomatis.
Terima kasih ITB, untuk percakapan yang menggugah.
Fajar belum utuh merekah, saat angin pagi membawa namamu ke Ibukota, dalam desau yang lirih. Namamu, selalu aku sebut dengan lirih di sela-sela munajat sujudku. Namamu, masih utuh di hatiku, meski aku tak lagi tahu ragamu berpijak di belahan bumi mana...
Malam bukan sekedar perkara gelap. Tapi juga persoalan jeda. Mengambil jarak dari rutinitas keseharian, dan menutupnya dengan doa.
Ada yang menghubungimu di waktu luangnya, dan ada yang menghubungimu karena meluangkan waktunya.
Pahami perbedaannya !
Psikologi Sufi retweeted
لا شيء أسهل من الكراهية، أما الحب فهو يحتاج نفسًا عظيمة.
Tak ada yang lebih mudah dari kebencian, sedangkan mencintai itu membutuhkan jiwa yang mulia.”
— Syams Tabrizi
Psikologi Sufi retweeted
"Sometimes, the best company is a winding road, a lone tree, and a sunset that turns the sea to gold”
Have a nice evening !














