mas prast retweeted
Yang buat videonya udah ngebolehin video ini didownload dan disebarkan seluas-luasnya.
Jadi silahkan.... bebas!
mas prast retweeted
Urusin dan selesaikan masalah intolenransi beragama yang masih sering terjadi, jangan buat kebijakan yang aneh aneh.
Ingat ASN itu bukan muslim saja.
Juga awasi ponpes karena masih terjadi kasus pelecehan seksual.
mas prast retweeted
Diamnya sontoloyo MUI dan pemerintah dan membiarkan ceramah agama seperti ini jelas menunjukkan negara ini negara munafik dgn Pancasilanya dan pita Bhinneka Tunggal Ika yg palsu. Ada baiknya lambang negara diganti ke gambar onta sialan.
mas prast retweeted
🤣🇫🇷 **STRATEGI BARU POLISI PRANCIS!** 🐷🚨
**Polisi Prancis: "Kalau situasi makin panas, jangan panik! Kita punya strategi baru yang efektif bikin para pendemo tidak berani rusuh!"** 😂
#Satire #HumorPolitik #Prancis #DemoPrancis #FreePalestine #Viralparis
mas prast retweeted
KATA SIAPA HIJAB ITU MUTLAK PILIHAN?
Wong, dalam banyak kasus, itu pemaksaan yang dibungkus narasi kesalehan.
BALITA BELUM BISA MEMILIH, COY. Dia bahkan belum memahami konsep agama, aurat, apalagi kewajiban berhijab.
Orangtuanya yang memilihkan, lalu pilihannya dipresentasikan seolah-olah kehendak si anak sendiri.
Jangan meromantisasi pemaksaan sebagai pilihan hanya karena pelakunya orangtua dan bungkusnya agama.
Hello... Feminis, mana suaranya? Mingkem jika dah berhadapan dengan agama duaaar-mai? 🤡
mas prast retweeted
MERUJAK ISLAM SONTOLOYO 🤡
SERI 15: SEMUA NABI MUSLIM. BUKTINYA? KITAB GUE BILANG BEGITU!
LMFAO... 🤡
Coy, ternyata untuk menguasai seluruh sejarah umat manusia, lu nggak perlu ekspedisi arkeologi, penelitian historis, analisis sumber, atau bukti independen.
Cukup punya satu kitab, percaya kitab itu pasti benar, lalu deklarasikan bahwa semua tokoh masa lalu sebenarnya bagian dari agama lu 🤡
Adam Muslim. Ibrahim Muslim. Musa Muslim. Isa Muslim. Semua masuk daftar keanggotaan.
Bahkan mereka yang hidup ribuan tahun sebelum Muhammad, sebelum Al-Qur'an muncul, dan sebelum komunitas Islam historis terbentuk, sudah lu daftarkan sebagai Muslim.
Administrasi keanggotaan lintas milenium. Tanpa formulir, tanpa persetujuan anggota, tanpa kemungkinan mengajukan keberatan 🤡
Lalu ketika ditanya buktinya?
"Karena Al-Qur'an menyatakan demikian!"
Nah, ini dia. Argumen yang konon membuktikan kebenaran sejarah, tetapi ketika diminta menunjukkan dasar pembuktiannya, malah menyodorkan kembali klaim yang sedang diminta pembuktiannya. LoL... 🤡
Itu mah bukan pembuktian. Itu circular reasoning: kesimpulan diselundupkan menjadi premis, kemudian dikeluarkan kembali seolah-olah baru saja memenangkan olimpiade logika 🤡
Al-Qur'an benar karena berasal dari Tuhan. Al-Qur'an berasal dari Tuhan karena dipercaya sebagai wahyu Tuhan. Klaim sejarah dalam Al-Qur'an benar karena Al-Qur'an benar. Lingkaran setan klasik 🤡
Pertanyaannya, mana pembuktian independennya? 🤡
Jangan cuma memutar argumen seperti kipas angin, lalu mengira angin yang dihasilkan adalah mukjizat intelektual 🤡
Lu tidak membuktikan klaim itu benar. Lu hanya menjelaskan mengapa orang yang sudah percaya kepada klaim itu akan menerimanya.
Dua hal berbeda, coy. Tolong jangan disatukan hanya karena keduanya sama-sama membuat lu nyaman.
CIRCULAR REASONING: KITAB GUE BENAR KARENA KITAB GUE BILANG BEGITU.
Logikanya sederhana.
Premis 1: Al-Qur'an adalah wahyu Tuhan dan pasti benar.
Premis 2: Al-Qur'an menyatakan semua nabi adalah Muslim.
Kesimpulan: Semua nabi adalah Muslim.
Perhatikan baik-baik. Kalau premis pertama sudah diterima, kesimpulan itu memang mengikuti kerangka keyakinan tersebut.
Tetapi ketika orang bertanya, "Apa alasan independen untuk menerima premis pertama?", mengulang ayat yang sama tidak otomatis menjawab pertanyaan itu.
Masalahnya bukan bahwa sebuah argumen tidak boleh menggunakan kitab suci sebagai sumber keyakinan. Tentu boleh.
Masalahnya adalah ketika kepercayaan terhadap kitab dijadikan dasar untuk menerima klaimnya, kemudian klaim itu diperlakukan sebagai bukti bahwa kitab tersebut benar.
Kesimpulan yang bergantung pada kepercayaan terhadap sumber tidak otomatis menjadi bukti independen bagi keandalan sumber itu sendiri.
Kalau gue menulis sebuah buku dan menyatakan bahwa semua filsuf besar diam-diam mengikuti pemikiran gue, apakah pernyataan gue otomatis menjadi bukti sejarah? 🤡
KALAU lu MENOLAK, BAGUS. Berarti lu paham bahwa klaim membutuhkan alasan yang tidak sekadar mengulang klaim itu sendiri.
SEKARANG TERAPKAN STANDAR yang SAMA pada kitab yang lu percayai 🤡
Jangan sampai logika berlaku ketat ketika memeriksa buku orang lain, tetapi mendadak mengambil cuti panjang ketika kitab DONGENG sendiri yang diperiksa 🤡
Itu bukan konsistensi epistemik, coy. Itu diskriminasi terhadap bukti berdasarkan identitas sumber 🤡
EQUIVOCATION FALLACY: KATA YANG SAMA, MAKNA YANG BERGESER.
Sekarang kita masuk ke jurus berikutnya.
Ketika dikatakan bahwa semua nabi adalah Muslim, istilah muslim dapat digunakan dalam pengertian luas: orang yang berserah diri kepada Tuhan.
Dalam kerangka teologi Islam, pengertian itu dapat digunakan untuk memasukkan para nabi terdahulu ke dalam satu garis kesinambungan wahyu.
Silakan. Tidak ada masalah hanya karena sebuah agama memiliki definisi teologis sendiri.
Tetapi persoalan muncul ketika definisi luas tersebut diam-diam dipakai untuk menghasilkan kesimpulan yang jauh lebih spesifik: bahwa seluruh nabi terdahulu secara historis menganut agama Islam dalam pengertian yang sama dengan tradisi Islam setelah Muhammad.
Tunggu dulu, Profesor Kamus... 🤡
Kalau muslim berarti orang yang berserah diri kepada Tuhan, lu sedang membuat klasifikasi berdasarkan definisi teologis.
Kalau Muslim berarti penganut tradisi keagamaan historis yang memiliki seperangkat keyakinan, praktik, dan identitas tertentu, lu sedang membuat klaim yang berbeda.
Lu tidak bisa menggunakan pengertian pertama sebagai premis, lalu menikmati kesan seolah-olah pengertian kedua sudah ikut terbukti.
Itulah potensi equivocation fallacy: satu istilah dipakai dalam dua pengertian yang berbeda sehingga kesimpulannya terlihat lebih kuat daripada yang sebenarnya didukung premis.
Mengubah arti kata tidak otomatis mengubah fakta sejarah.
Kalau gue mendefinisikan Hydean sebagai siapa pun yang mencintai kebebasan berpikir, lalu menyatakan bahwa Socrates, Nietzsche, dan Bertrand Russell adalah Hydean, gue baru saja melakukan klasifikasi berdasarkan definisi gue sendiri.
Gue belum membuktikan bahwa mereka mengenal Hyde, mengikuti gagasan gue, atau mengidentifikasi diri dengan istilah tersebut.
BEDANYA JELAS? 🤡
Kalau jelas, jangan lakukan hal serupa terhadap para nabi, lalu mengklaim bahwa definisi teologis sudah menyelesaikan persoalan sejarah 🤡
Lu boleh memperluas makna sebuah istilah. Yang tidak boleh adalah menyamarkan perluasan definisi itu sebagai penemuan fakta.
ANACHRONISM: MEREKRUT ORANG MASA LALU KE DALAM IDENTITAS MASA KINI.
Ini juga menarik.
Tokoh yang hidup pada periode berbeda dapat memiliki gagasan, praktik, dan identitas keagamaan yang tidak identik. Sejarawan harus merekonstruksinya berdasarkan konteks zamannya dan sumber yang tersedia.
Tetapi dalam narasi teologis, tokoh-tokoh tersebut dapat dibaca sebagai bagian dari satu garis agama yang berpuncak pada Islam.
Sebagai interpretasi keagamaan, itu dapat dijelaskan.
Namun, jangan mencampuradukkan pembacaan teologis tersebut dengan kesimpulan historis tanpa menunjukkan jembatan argumennya.
Jika lu menyatakan bahwa Ibrahim adalah Muslim dalam pengertian teologis Islam, jelaskan bahwa itu merupakan cara Islam memahami Ibrahim.
Jika lu menyatakan bahwa Ibrahim secara historis menganut Islam sebagaimana dipraktikkan komunitas Muslim setelah Muhammad, tunjukkan bukti yang relevan dan jelaskan definisi yang digunakan 🤡
Jangan cuma mengibarkan bendera zaman sekarang di atas kepala tokoh masa lalu, kemudian berteriak bahwa sejarah sudah mengakui keanggotaan mereka 🤡
Identitas yang dilekatkan oleh tradisi kemudian bukan otomatis identitas historis yang dapat dibuktikan dari sudut pandang tokoh itu sendiri.
Kalau tidak, semua ideologi bisa mengklaim tokoh masa lalu sebagai anggota kehormatannya.
Nasionalis bisa merekrut filsuf kuno. Politisi bisa mengklaim ilmuwan mati sebagai pendukung partainya. Dan agama bisa memasukkan seluruh tokoh terdahulu ke dalam silsilahnya.
Tapi ketika semua orang melakukan itu, apa yang membedakan sejarah dari propaganda identitas?
Jawabannya bukan dengan berteriak lebih keras.
Jawabannya adalah pemeriksaan sumber, konteks, dan kualitas bukti.
ARGUMENTUM AD VERECUNDIAM VERSI SUCI: KITAB INI OTORITASNYA TERTINGGI, JADI SELESAI!
Ketika sumber independen tidak tersedia atau tidak dianggap perlu, otoritas kitab sering dijadikan penutup diskusi.
"Al-Qur'an sudah menjelaskan semuanya."
Bagi orang yang menerima otoritas Al-Qur'an, kalimat itu mungkin cukup untuk menjelaskan keyakinannya.
Tetapi jika lu menggunakannya untuk meyakinkan orang yang justru sedang mempertanyakan otoritas tersebut, lu belum menjawab keberatannya.
Lu hanya mengulang alasan yang tidak ia terima.
Dan jangan asal menuduh setiap penggunaan otoritas sebagai appeal to authority. Mengutip sumber yang kompeten bisa sangat rasional. Otoritas ahli dalam bidangnya memang relevan.
Persoalannya adalah apakah otoritas itu telah dibenarkan untuk perkara yang sedang dibahas, dan apakah ada alasan memadai untuk menerima keandalannya.
Mengutip sumber yang dipersoalkan sebagai satu-satunya bukti atas kebenaran sumber itu sendiri tidak menyelesaikan persoalan otoritasnya.
Kalau klaimnya historis, kita perlu menilai sumber sejarah yang relevan.
Kalau klaimnya teologis, kita perlu memeriksa premis dan komitmen iman yang mendasarinya.
Kalau klaimnya epistemologis, kita perlu menilai alasan mengapa sumber itu dianggap dapat dipercaya.
Tidak semua pertanyaan bisa dijawab dengan satu kalimat sakti: "Karena kitab gue bilang begitu."
Kalau memang bisa, seluruh perdebatan agama sudah selesai sejak manusia pertama kali menemukan cara menulis klaim di atas benda yang bisa diwariskan.
Sayangnya, dunia tidak bekerja seperti kolom komentar apologetika 🤡
BEBAN PEMBUKTIAN BUKAN MUSUH IMAN.
Sekarang, sebelum ada yang berteriak bahwa kritik ini berarti menuntut bukti laboratorium untuk segala hal, mari kita luruskan.
Tidak semua klaim harus dibuktikan dengan metode eksperimen. Klaim sejarah, moral, metafisika, dan ilmiah memerlukan jenis pembenaran yang berbeda.
Kita tidak sedang menuntut agar keberadaan setiap nabi diuji menggunakan mikroskop.
Kita sedang menuntut agar jenis klaim tidak dicampuradukkan dengan jenis bukti.
Jika lu menyampaikan keyakinan teologis, jelaskan landasan teologisnya.
Jika lu mengklaim sebuah peristiwa benar-benar terjadi dalam sejarah, jelaskan sumber dan alasan historisnya.
Jika lu mengklaim bahwa sebuah kitab berasal dari Tuhan, jelaskan alasan yang mendukung klaim asal-usul ilahinya.
Dan jika lu ingin menggunakan klaim itu sebagai bukti untuk klaim lainnya, tunjukkan hubungan logisnya.
Sederhana.
Yang rumit itu bukan standar pembuktiannya, melainkan kebiasaan sebagian orang yang ingin kesimpulannya diterima tanpa bersedia membuka premisnya untuk diperiksa 🤡
Beban pembuktian tidak hilang hanya karena sebuah klaim dibungkus dengan kata suci 🤡
Kalau kesimpulan lu hanya berlaku bagi orang yang sejak awal sudah menerima seluruh premisnya, jangan jual kesimpulan tersebut sebagai bukti universal yang konon telah menaklukkan sejarah 🤡
Itu namanya mengetahui apa yang dipercayai kelompok sendiri, bukan otomatis membuktikan bahwa kepercayaan tersebut benar.
PERTANYAAN YANG BIKIN ARGUMENNYA HARUS TURUN DARI PODIUM.
Kalau masih bersikeras bahwa semua nabi secara historis menganut Islam dalam pengertian yang sama dengan tradisi Islam sekarang, jawab enam pertanyaan berikut.
1. Definisi: Apa tepatnya arti Islam dalam klaim lu? Kepasrahan kepada Tuhan secara umum atau tradisi keagamaan historis tertentu?
2. Bukti: Apa sumber historis independen yang mendukung klaim tersebut, selain teks yang otoritasnya sedang dipersoalkan?
3. Konteks: Bagaimana lu membedakan identitas historis seorang tokoh dari identitas teologis yang dilekatkan kepadanya oleh tradisi kemudian?
4. Logika: Bagaimana lu membuktikan bahwa Al-Qur'an benar tanpa sekadar menggunakan kepercayaan terhadap Al-Qur'an sebagai dasar untuk menerima seluruh klaimnya?
5. Standar: Apakah lu bersedia menggunakan metode evaluasi yang sama jika agama lain membuat klaim serupa tentang tokoh-tokoh yang mereka anggap suci? 🤡
6. Koreksi: Bukti seperti apa yang secara prinsip dapat membuat lu merevisi klaim historis tersebut?
Kalau lu punya jawaban yang kuat, silakan ajukan.
Kalau lu menjawab bahwa semuanya diterima berdasarkan iman, posisi lu sudah jelas. Tetapi jangan menyamakan penerimaan berdasarkan iman dengan pembuktian historis independen 🤡
Kalau lu menjawab dengan ayat lain, pertanyaan tentang otoritas sumber tetap menunggu jawaban 🤡
Kalau lu mengganti definisi, persoalan pergeseran makna tetap menunggu jawaban 🤡
Kalau lu menuduh pengkritik membenci Islam, itu tidak menjawab satu pun pertanyaan di atas 🤡
Dan kalau lu hanya mengulang kesimpulan awal dengan huruf kapital, yang bertambah cuma volume suara, bukan kualitas argumen.
🤡🤡🤡
PENUTUP: SEJARAH BUKAN PROPERTI EKSKLUSIF AGAMA LU 🤡
Silakan lu meyakini bahwa semua nabi berserah diri kepada Tuhan yang sama. Itu merupakan keyakinan teologis yang dapat dijelaskan.
Tetapi jangan melakukan sulap intelektual dengan mengubah keyakinan tersebut menjadi fakta historis yang konon sudah terbukti, padahal argumen yang diajukan hanya mengulang isi kitab yang lu percayai 🤡
Jangan pula menggunakan satu definisi muslim untuk memasukkan semua tokoh masa lalu, kemudian memperlakukan hasil klasifikasi itu seolah-olah telah membuktikan kesinambungan historis seluruh doktrin Islam 🤡
Ada perbedaan antara meyakini sebuah narasi, mendefinisikan sebuah kategori, dan membuktikan sebuah klaim 🤡
Kalau tiga hal itu lu aduk menjadi satu, jangan heran ketika argumen lu tampak meyakinkan hanya bagi orang yang sejak awal sudah setuju.
Dan ingat, kritik ini tidak membuktikan bahwa klaim teologis Islam pasti salah. Kritik ini menunjukkan bahwa beberapa cara membelanya tidak cukup untuk membuktikan klaim historis yang lebih luas.
Perbedaan itu justru penting jika lu sungguh-sungguh peduli pada kebenaran, bukan cuma kemenangan debat.
Sebab kebenaran tidak menjadi lebih benar hanya karena jutaan orang mengulanginya.
Dan klaim tidak menjadi fakta sejarah hanya karena sebuah kitab suci menyatakannya.
Kalau semua nabi Muslim hanya karena kitab lu bilang begitu, yang sudah lu buktikan adalah bahwa kitab lu mengatakan semua nabi Muslim. Bukan bahwa seluruh klaim historis di dalamnya otomatis terbukti.
Sesederhana itu.
Lu boleh memiliki iman. Lu boleh memiliki tafsir. Lu boleh memiliki keyakinan bahwa sejarah manusia merupakan satu garis wahyu yang berkesinambungan.
Tetapi ketika lu membawa klaim itu ke arena pembuktian, jangan minta logika menyerah hanya karena lawannya memakai nama Tuhan.
Tuhan, jika memang ada dan benar mahatahu, tidak membutuhkan kekeliruan logika manusia untuk mempertahankan kebenaran-Nya. Yang membutuhkan kekeliruan itu hanyalah argumen yang tidak sanggup berdiri dengan kekuatannya sendiri.
Pola apologet jualan dogma:
Kitab dijadikan premis, kesimpulan dikembalikan sebagai bukti, definisi digeser ketika diperlukan, lalu semuanya dijual sebagai kemenangan sejarah.
Itu bukan sejarah yang berhasil membuktikan wahyu. Itu wahyu yang dijadikan hakim bagi sejarah, saksi bagi dirinya sendiri, sekaligus pengacara bagi kesimpulannya.
Rujak selesai diulek, tinggal kita lihat siapa saja nguslem lugu yang kelojotan karena sambel level lima belas mamang tukang rujak.
🤡🤡🤡
mas prast retweeted
Bangsa ini disandera dogma ng-Arab, lalu heran kenapa cara berpikirnya susah merdeka 🤡
Yang diimpor bukan cuma bahasa ibadah, pakaian, dan simbol kesalehan, tetapi juga cara pandang yang kadang menempatkan tradisi asing di atas kebudayaan sendiri, kepatuhan di atas nalar kritis, dan tafsir masa lalu di atas kebutuhan manusia masa kini.
Masalahnya bukan pada segala sesuatu yang berasal dari Arab, melainkan ketika Arabisasi kebudayaan diperlakukan sebagai kewajiban teologis, lalu kritik terhadapnya dianggap sebagai ancaman terhadap iman.
Kita punya kekayaan bahasa, tradisi, filsafat lokal, dan pengalaman historis sendiri. Namun, sebagian orang justru sibuk mengukur kesalehan dengan seberapa jauh mereka meniru kebudayaan masyarakat lain, seolah-olah Tuhan menerbitkan sertifikat kesucian berdasarkan kemiripan penampilan.
Ironisnya, bangsa yang secara politik sudah merdeka masih bisa mengalami kolonisasi epistemik: cara berpikirnya dijajah oleh otoritas yang tidak boleh dipertanyakan.
Padahal, kemerdekaan bukan sekadar kemampuan mengibarkan bendera sendiri. Kemerdekaan juga berarti keberanian untuk memeriksa warisan sendiri, menolak otoritas yang tak punya dasar memadai, dan membedakan antara kebenaran dengan sesuatu yang sekadar diwariskan turun-temurun.
Bangsa tidak akan benar-benar maju jika kesetiaan kepada dogma lebih dihargai daripada keberanian menguji kebenaran.
Sebab, ketika mempertanyakan dianggap dosa, berpikir dianggap pembangkangan, dan perubahan dianggap pengkhianatan terhadap masa lalu, yang sedang dipertahankan bukanlah kemajuan peradaban, melainkan kekebalan dogma dari kritik.
Dan dogma yang kebal kritik punya satu keistimewaan: ia bisa terus gagal menjawab persoalan zaman tanpa pernah dipaksa mengakui kegagalannya.
🤡🤡🤡
mas prast retweeted
Pagii guys, jangan instal M-Banking atau aplikasi pembayaran lainnya sebelum kalian melakukan dua setingan ini, yg udah terlanjur segera ceck apa udah dinonaktifkan apa belum 🥰🥰
mas prast retweeted
Jika ingin tahu betapa biadabnya orang orang Islam terhadap orang Kristen.
Ini contohnya.
Buat teman teman Kristen, sebarkan ke semua anggota kerabat & teman Kristen lainnya, supaya mereka tersadarkan bahwa agama ini sungguh kejam..
mas prast retweeted
Rumah Doa GKPI Rajeg, Tangerang, dipastikan tak lagi digunakan untuk beribadah setelah sempat digeruduk warga, sehingga jemaat akan beribadah di rumah masing-masing sambil menunggu kepastian lokasi pengganti.
Loh damainya jadi begini toh ?
mas prast retweeted
Aji dipenjara dan rumah doa tetap dibuka -> Pemerintah bekerja dengan baik dan adil
Aji tidak dipenjara tetapi rumah doa dibuka -> Pemerintah bekerja dan kerukunan umat beragama bisa dijaga
Aji dipenjara dan rumah doa tetap ditutup -> Pemerintah hadir dan adil
Jalan mana yang dipilih? Jawabannya Aji tidak dipenjara dan rumah doa ditutup.
mas prast retweeted
Kami non-muslim girang saat Nasaruddin Umar terpilih menjadi Menag karena ia terlihat tdk najis mencium kepala Paus Roma Katolik.
Ternyata ... manusia ini justru intoleran, bkn saja kpd non-muslim, tapi melindungi pesantren cabul, umat agamanya sendiri.




























