Pinned Tweet
- tidak ganti username dan display name dari awal main twitter (2009)
- tidak ganti avatar dan header dari tahun 2012
- baru ganti pinned tweet yang sudah dipakai dari tahun 2016
Aldrin Kevin retweeted
Debat publik soal riset BRIN yang lagi ramai ini nunjukin bahwa:
kita seringnya silau sama buzzword "AI dan semikonduktor", tapi buta sama unit economics rantai pasok industri riil
Coba lu dekonstruksi logikanya secara objektif:
Waktu muncul berita BRIN meneliti pengawetan bakpia basah sampai tahan hampir dua bulan lewat teknologi iradiasi gamma, reaksi spontan warganet langsung skeptis dan menganggap riset ini buang-buang anggaran negara.
Narasinya seragam: ngapain ngurusin makanan tradisional di saat dunia luar lagi sibuk adu kecanggihan robotik dan chip?
Padahal secara sains terapan dan industri, ada miskonsepsi fatal di sini.
Bakpia itu technically cuma media uji sampel. Nilai fundamental risetnya bukan di kuenya, tapi di validasi teknologi food irradiation, metode sterilisasi dan pengawetan komoditas tanpa bahan pengawet kimia sintetis yang menjadi standar mutlak regulasi ekspor pangan global. Kalau cuma mengandalkan kemasan vakum biasa, bakteri anaerob tertentu tetap hidup dan masa simpannya sangat terbatas.
Konyolnya, sebagian publik memandang lembaga riset nasional seolah cuma punya satu tim kerja. Dikiranya kalau peneliti pangan lagi menguji iradiasi, periset semikonduktor otomatis disuruh berhenti. Padahal ada pembagian divisi yang jelas: riset pangan jalan di rumpunnya, sementara tim semikonduktor dan AI tetap bekerja di klaster teknologinya masing-masing.
Sekarang coba hitung trade-off dan realitas ekonominya.
Membangun industri manufaktur semikonduktor tier-1 itu butuh belanja modal ratusan triliun rupiah dan ekosistem rantai pasok global yang sangat rumit. Sementara di sisi lain, sektor pangan dan pertanian domestik kita setiap tahun bleeding puluhan triliun rupiah hanya karena masalah post-harvest loss alias komoditas keburu busuk di jalur logistik sebelum sempat diekspor.
Riset perpanjangan masa simpan produk pangan lokal justru punya dampak ekonomi langsung ke cash flow pelaku usaha daerah, ketahanan logistik antarpulau, sampai neraca dagang.
Gengsi sering kali bikin kita terjebak memuja teknologi yang kedengaran keren di media sosial, sampai lupa kalau masalah riil ekonomi negara berkembang justru ada pada inefisiensi mendasar di sektor pangan dan manufaktur dasar.
Riset yang berdampak itu bukan yang paling futuristis di judul berita, tapi yang paling solutif memecahkan friksi ekonomi di lapangan.
Make sense enggak kalau kita berhenti menghakimi riset cuma dari sensasi judul berita dan mulai bedah dampaknya ke industri dari akar masalah? Menurut kalian gimana? Coba kita bahas.
Aldrin Kevin retweeted
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Jakarta kehilangan seorang perempuan hebat. Kabar duka ini diterima saat kami sedang berada di Beijing.
Di masa awal bertugas di Jakarta, saya datang ke eksebisi di UI yg diikuti Pemprov DKI dan melihat gerai Pemprov dirancang begitu kreatif serta dijaga oleh para CPNS yg terlatih dan bersemangat. Jauh dari kesan kolot pemerintahan. Saya tanya, siapa yg merancang ini?
Itulah pertama kali berkenalan dgn bu Atika Nur Rahmania. Bu Tika kami memanggilnya. Saat itu ia pejabat level menengah, jabatan yg di bawah kemampuan sebenarnya. Sejak itu, kami mempercayakan amanah sbg Kepala Dinas Kominfotik, yg juga membina Jakarta Smart City.
Dalam masa tugasnya, JAKI lahir sbg super app, melampaui aplikasi pengaduan. Di saat COVID, ialah yg membangun portal informasi yg dijadikan referensi tiap harinya oleh masyarakat, dan jadi tempat warga Jabodetabek mendaftarkan diri utk mendapatkan vaksin dgn mudah. Ia ikut berjasa menyelamatkan banyak warga Jakarta.
Berbagai layanan digital Pemprov ia integrasikan ke dlm satu app. JAKI berkali2 mendapat global awards krn kepemimpinannya. Seluruh komunikasi Pemprov berjalan efektif atas usahanya.
Bu Tika bukan cuma produktif dlm karya, tapi jg hangat dlm hubungan kerja. Ia adalah “ibunya” anak2 muda di Pemprov DKI. Begitu murah hati pd semua, baik membantu urusan kerja maupun personal. Ia sering berkeliling bagi2 makanan pd sesama pegawai di balaikota, hanya krn ia suka berbagi dan tak mau melihat ada yg belum makan. Kerjanya membuat ia dihormati dan dikagumi, kehangatannya membuat ia disenangi dan dicintai.
Kemarin ia berpulang mendadak di tengah tugas, saat memberikan arahan sbg Kepala Bappeda Pemprov DKI pd para CPNS muda. Ia berpulang saat menjalani hal yg amat ia cintai, yaitu menjadi “ibunya” anak2 muda di Pemprov DKI. Satu berita duka yg bagi banyak orang begitu mengoyak hati.
Semoga Allah SWT mengampuni segala dosanya dan menempatkannya di sisi-Nya. Semoga keluarganya diberi ketabahan menjalani cobaan ini. Semoga jejak kerjanya terus memberi manfaat bagi warga Jakarta dan menjadi aliran amal jariyah yg tak henti2nya. Aamiin yra.
Aldrin Kevin retweeted
Replying to @wahyu_saladin @Gerindra
Pasar senggol dengan pasar jongkok sama tidak?
Aldrin Kevin retweeted
Saya dulu juga pernah neolib. Namun saya bertobat. Bagi yang belum bertobat, bertobatlah. Bergabunglah dengan saya.
Aldrin Kevin retweeted
Plis warga Surabaya jangan melawan Belanda/Inggris, nanti susah cari kerja. Baik-baik saja ke Brigjen Mallaby.
Aku tau kalian kesel ama "Pejabat" but please jgn ada yang aneh2 pas orang itu dateng (Kalo beneran dateng), Kagak lucu klo IKA ITS yang kena efeknya / Karier Alumni terancam kena sebagian
Kampus kita ini udah kalah secara networking ama top 3 DAN Kampus ga seterkenal itu di luar jatim (Kalah ama yg di malang & semarang, apalagi di Jabodetabek dan Banten,jarang yg tau ITS)
Amit-amit Ampe ada yang "Nekat" trus kampus malah ditandain atau dipersulit
Aldrin Kevin retweeted
ORANG BRAZIL SPILL CARA MENGHADAPI BUZZER
“JANGAN BERI RUANG SEDIKIT PUN UNTUK MEREKA”
Jangan ditonton. Jangan diklik. Jangan diladeni. Jangan diperdebatkan. Bahkan jangan dikomentari.
Kendalikan algoritma. Jangan biarkan mereka mengendalikan perhatian kita.

tahun 2008, roy suryo pernah ngelaporin dewa 19 ke polisi gara2 hal serupa
hot.detik.com/music/d-105074…
Aldrin Kevin retweeted
Alkisah Presiden Suharto bertemu dengan Perdana Menteri Lee Kwan Yew.
Soeharto bertanya kepada Lee Kuan Yew kenapa Singapore bisa jauh lebih maju dari Indonesia. Maka Lee Kuan Yew memanggil Goh Chok Tong yang saat itu menjadi wakilnya, lalu ia bertanya: “Mr Goh, siapa itu anaknya bapakmu, anaknya ibumu, tapi bukan saudaramu?”
Goh tersenyum, lalu menjawab: “Tentu saja saya sendiri.” Dan Lee menyimpulkan: “Kami bisa maju karena kami memilih orang-orang pintar jadi pengelola negara.”
Soeharto pun pulang. Tapi ia penasaran: apakah ia telah memilih orang pintar jadi pengelola negara. Maka ia memanggil menteri kesayangannya, Harmoko. “Pak Harmoko. Ada yang ingin saya sampaiken. Pak Harmoko coba menjawab, siapakah anak daripada bapakmu, anak daripada ibumu, tapi bukan saudara daripada kamu.”
Harmoko cepat menjawab, “Mohon petunjuk untuk tindak lanjutnya, Pak.” Soeharto agak kesal, tapi ia masih menyimpan harapan. “Coba Pak Harmoko mencari jawabannya ke menteri-menteri lain.”
Maka Harmoko undur diri.
Setelah tak memperoleh jawaban dari Soedharmono, Akbar Tanjung, dll; akhirnya Harmoko menemui Habibie. Habibie tertawa saja. “Pak Harmoko, jawabannya adalah saya sendiri!” Harmoko langsung cerah. Tak lama ia mohon menghadap Presiden Soeharto.
Soeharto menyambut dengan senyum permanennya. “Sudah ada jawaban, Pak Harmoko?” Harmoko tak sabar menjawab dengan ceria, “Sesudah saya gali informasi dari berbagai pihak, ternyata jawabannya adalah: Pak Habibie!”
Soeharto mengernyitkan kening. Tapi ia tak ingin mengecewakan bawahannya yang setia itu. “Bagus Pak Harmoko. Itu merupaken upaya yang baik. Jawabannya juga sebenarnya mendekati benar. Tapi sayang memang belum 100% benar.”
Harmoko agak kecewa. “Jadi jawabannya apa, Bapak Presiden yang Kami Banggakan?”
“Adapun jawabannya,” pungkas Soeharto, “Adalah Goh Chok Tong.”
UPDATE DEMO!!!!!!
GELO, CHAOS BANGET! SERAME INI GA MUNCUL MUNCUL DI TIMELINE.
#demo #SumpahPemuda #revolution #SumpahPemuda2026
Aldrin Kevin retweeted
Sejarah pernah mencatat pada akhir pemerintahan Soekarno, ketika ekonomi memburuk, inflasi melonjak, dan konflik politik dalam negeri meningkat, pemerintah justru mengobarkan Konfrontasi Malaysia.
Nasionalisme dimobilisasi untuk mengalihkan perhatian publik dari krisis domestik sekaligus membangun solidaritas nasional.
Strategi ini dikenal sebagai diversionary foreign policy.
Apakah playbook serupa akan kembali dimainkan oleh pemerintahan Prabowo?
Aldrin Kevin retweeted
aku ketika memperkenalkan diri di bookclub ini
This quoted post is unavailable.
Aldrin Kevin retweeted
Saya 2 tahun kerja di BRGM kedeputian Litbang. Selama periode kerja BRG mungkin ada > 200 riset didanai, termasuk juga kerjasama riset dengan WRI, DHI, dll.
Risetnya multidisiplin, bahkan interdisiplin.
Kita ga kekurangan riset, tapi risetnya yg gak pernah diimplementasikan.
Analisa yang menarik dari Bagus Muljadi mengenai fenomena kebakaran hutan saat ini.
>Menurutnya, karhutla bukan lagi bencana nasional, melainkan internasional.
>Di Indonesia, bukan paham kanan atau kiri yang menjadi perdebatan, melainkan daerah dan pusat.
>Budaya mengenai pemahaman gambut masih minim di daerah
>budaya riset di daerah masih lemah, akibatnya untuk menghadapi bencana spt ini menjadi tumpang tindih antara pusat dan daerah
>untuk memadamkan gambut di Indonesia, 1 hektar perlu 200rb liter air, helikopter untuk terbang perlu 10 rb usd untuk 1 jam, itupun masih hit n miss, belum tentu bisa memadamkan gambut
>saat terjadi bencana masyarakat cenderung terpolarisasi. Misalnya di Tamiang, selalu menjurus ke tobat ekologis. Padahal jika pemhaman akan gambut dan pengawasan yang ketat tentu lebih efektif dibandingkan demikian
Di Indonesia sudah ada mengenai UU pembakaran lahan, yang masih jadi PR adalah bagaimana regulasi tsb diawasi dan diemplementasikan dengan baik
Jua masyarakat paham, mengapa harus bakar apa yang ia dapat, dan kapan waktu yang tepat untuk membakar. Itu semua bisa diwujudkan jika budaya riset mulai diberdayakan.
Aldrin Kevin retweeted
Ternyata Indonesia udah mengirim asap ke Singapura sejak setidak2nya tahun 1970an. Dan yang disalahin pemerintah "NKRI harga mati" tetep petani gurem.
Sumber: straitstimes.com/singapore/e…


































