Pinned Tweet
Sampai seorang manusia sepenuhnya sadar bahwa segala perbuatannya pasti diawasi oleh Allah maka mustahil baginya untuk bersikap benar.
- Al-Ghazali -
andpho retweeted
Ini yang disebut Hidden Cost of Living atau Biaya Ekonomi Tinggi yang Dipindahkan ke Rakyat.
Di negara dengan layanan publik yang bekerja, gaji adalah untuk hidup. Di kita, gaji adalah untuk bertahan + menambal.
Mari kita bedah:
1. Gajimu Bukan untuk Konsumsi, Tapi untuk Substitusi Negara
Di ekonomi yang sehat, ada yang namanya public goods - barang publik yang harusnya murah atau gratis karena sudah dibayar pajak: air bersih, keamanan, pendidikan dasar yang kompetitif, transportasi massal, jalan layak, kebersihan.
Ketika barang publik itu bapuk, tidak tersedia, atau sengaja dibiarkan berkualitas rendah, rakyat dipaksa membeli solusinya di pasar swasta dengan harga pasar.
Maka terjadilah:
🅿️ Parkir & ⛔️ Tol = Kegagalan Penyediaan Ruang Publik dan Mobilitas
Parkir liar berbayar adalah pungli atas kegagalan penataan ruang. Tol bukan lagi barang mewah, tapi ongkos paksa untuk mendapatkan kepastian waktu. Macet di jalan non-tol adalah inefisiensi yang biayanya kamu bayar pakai bensin, waktu, dan e-toll.
💧 Air Beli & 🛢 Iuran Sampah = Kegagalan Layanan Dasar Kota
PDAM tidak mengalir layak, air tanah tercemar. Maka setiap KK wajib langganan galon Rp300-500rb/bulan. Itu pajak kedua. Sama dengan sampah. Kita sudah bayar pajak untuk dinas kebersihan, tapi tetap bayar iuran RT/RW Rp50-150rb karena truknya tidak datang.
🏢 Les & 🧸 Daycare = Kegagalan Investasi SDM
Sekolah negeri gratis tapi tidak cukup untuk kompetisi. Maka biaya pendidikan swasta/les itu bukan gaya hidup, itu biaya investasi wajib agar anak tidak terlempar dari rantai mobilitas sosial. Sama dengan daycare. Ketika negara tidak mengatur dan mendorong daycare di kawasan industri/kantor sebagai standar, biaya reproduksi tenaga kerja - menjaga anak agar orang tuanya bisa tetap produktif - dilempar sepenuhnya ke keluarga. Rp1,5 - 3 juta/bulan.
🏨 Asuransi Swasta = Kegagalan Jaminan Sosial yang Layak
BPJS ada, tapi antrean, obat terbatas, kamar penuh. Maka kelas menengah dipaksa beli double protection. BPJS jadi iuran wajib, asuransi swasta jadi iuran untuk bisa hidup. Double cost.
🚋 Mobil Wajib = Kegagalan Transportasi Publik
Ini yang paling mahal. Di kota yang transportasinya terintegrasi, keluarga dengan gaji Rp20 juta tidak butuh mobil. Cukup motor + MRT/Bus. Di Surabaya, Jakarta, karena bus tidak reliable, tidak aman, tidak menjangkau last mile, mobil berubah dari aset menjadi kewajiban struktural. Cicilan 4jt + bensin 1,5jt + servis + asuransi + parkir = 7 jutaan hilang sebelum gaji dipakai.
2. Kenapa Disebut Struktural?
Karena ini bukan salah personal finansialmu yang boros. Ini salah desain.
Upah Terlihat Tinggi, Tapi Daya Beli Riil Rendah. Rp20 juta di Jakarta/Surabaya daya belinya setara mungkin Rp9-10 juta di kota dengan layanan publik bagus. Sisanya habis untuk menambal lubang.
Negara Memungut Pajak, Tapi Tidak Mengembalikan Dalam Bentuk Layanan. Rasio pajak kita rendah, tapi belanja publiknya tidak efisien dan tidak menyentuh hulu masalah kota. Jadi rakyat bayar dua kali: sekali lewat pajak, sekali lagi lewat pasar swasta.
Menciptakan Kemiskinan Baru Kelas Menengah. Kelas menengah kita rapuh. Gaji naik 10%, biaya privat untuk mengganti layanan publik naik 20%. Akhirnya tidak ada akumulasi modal untuk naik kelas - beli rumah layak, investasi, atau usaha. Semua habis untuk biaya bertahan hidup yang disamarkan sebagai "kebutuhan primer".
Bukan gaya hidup. Itu ongkos bertahan hidup di kota yang semua urusannya diswastakan.
Solusi di level individu cuma mitigasi: tinggal dekat tempat kerja/kantor/sekolah untuk memangkas biaya mobilitas paksa, atau sharing daycare dengan tetangga.
Tapi di level sistem, selama air, transport, pendidikan berkualitas, dan kesehatan layak masih dianggap komoditas, bukan hak dasar yang disediakan negara secara bermutu - maka gaji Rp20 juta, Rp30 juta pun akan terus terasa pas-pasan.
Valid! Kenapa gaji Rp20 juta pas-pasan banget. Bahkan gak cukup untuk membangun hidup berkualitas. Bukan soal gaya hidup, tapi hidden cost of living. Biaya hidup tersembunyi. Konsekuensi karena layanan publik bapuk. Tidak tersedia, berkualitas rendah atau memang gagal. Rakyat harus MEMBELI SOLUSI SENDIRI.
Gaji Rp20 juta sebenarnya tergolong tinggi dibanding rata-rata pendapatan di Indonesia. Namun di kota besar yang serba bayar, angka tersebut cepat habis.
🅿️Parkir berbayar diman-mana. Bahkan di tempat yang seharusnya menyediakan fasilitas parkir gratis bagi pengunjung
⛔️Jalan tol jadi pilihan karena terpaksa. Menghindari terjebak macet di jalan non-tol
💧Air bersih harus beli. Ada gak sih yang gak beli air minum sekarang??
🛡Bayar iuran keamanan kompleks
🏢Les sana sini karena kualitas sekolah negeri belum cukup untuk bekal bersaing masuk jenjang berikutnya
🏨Tambah proteksi asuransi swasta walaupun ada BPJS, untuk memperoleh akses yang lebih baik
🚋Karena keterbatasan transportasi umum, keluarga rasanya wajib punya mobil pribadi. Nambah lagi tuh cicilan, BBM, servis, asuransi, dan parkir
🛢Bayar iuran sampah dan kebersihan. Apakabar dinas kebersihan yang digaji dari pajak???
🧸Ortu yang kerja, harus bayar pengasuh atau penitipan anak karena gak ada day care di tempat kerja.
andpho retweeted
Mindfulness sebenarnya baik saja, tp memang bisa jadi toxic positivity.
Mindfulness bisa membantu kita mengelola kecemasan dan tetap jernih. Masalah muncul ketika ajakan untuk tenang, bersyukur, menjaga energi, dan berpikir positif justru menggantikan pertanyaan mengapa ini terjadi dan siapa yang bertanggung jawab? Saat berita kebakaran, udara beracun, bencana, keracunan MBG, dan kegagalan pelayanan publik memenuhi ruang informasi, masyarakat memang perlu menjaga kesehatan mental. Tetapi bagi keluarga yang anaknya keracunan, warga yang menghirup PM2.5, atau mereka yang kehilangan rumah dan pekerjaan, masalahnya bukan sekadar mindset. Mereka membutuhkan perlindungan, informasi, layanan, kompensasi, dan pertanggungjawaban.
Di sinilah mindfulness bisa berubah menjadi alat depolitisasi. Penderitaan yang semestinya melahirkan pertanyaan tentang kebijakan justru diperlakukan sebagai persoalan emosi individu. Padahal kemarahan tidak selalu sesuatu yang harus disembuhkan; kadang ia adalah respons moral terhadap ketidakadilan. Yang penting adalah mengubahnya menjadi data, pertanyaan, solidaritas, advokasi, dan tuntutan perubahan. Jangan panik bukan berarti jangan mempertanyakan.
Jangan bermeditasi agar mampu berdamai dengan ketidakadilan; bermeditasilah agar cukup tenang untuk memperjuangkannya.
Tell maudy ayunda to talk about mindfulness to :
1. Yg sesak nafas kena asap kebakaran hutan di sumatera,kalimantan
2. Ortu2 korban keracunan MBG
3. Warga luar jawa yg antre panjang demi beberapa liter bbm
4. Org2 yg kena layoff pdhl ada anak yg hrs sekolah+org tua yg butuh berobat
5. Pedagang kecil dan kaum rentan yg makin susah cari duit krn kaum middle class dan lower economy jg berhemat dan nekan pengeluaran.
Stop being tone deaf, try to napak tanah.
andpho retweeted
Semenjak denger Ustadz felix di podcast ini bener-bener terngiang-ngiang setiap aku kerja🥹
Beliau lagi menjelaskan konsep rezeki, pekerjaan, dan rasa syukur🥹
andpho retweeted
Dapet info A2 kalau mahkamah konstitusi di suatu negara akhir-akhir ini sangat progresif tiap kali uji materi karena secara moral mereka merasa berdosa besar dan ingin menebusnya setelah dulu pernah mengesahkan uji materi menurunkan batas usia cawapres.
Info kesukaan @kafiradikalis nih (``,)
andpho retweeted
Untuk dikatakan menguasai satu ilmu, seseorang harus punya ijazah.
Apa itu ijazah? Dari bahasa Arab berakar kata j-w-z (ج-و-ز) yang bermakna melewati, mengizinkan, atau memberikan izin. Dalam konteks ilmu berarti memberi kuasa atau otoritas keilmuan.
Guru di zaman dahulu menyatakan secara lisan atau tertulis: "Aku ijazahkan kepadamu ilmu ini sebagaimana aku telah diijazahkan oleh guruku sebelumnya," disertai sanad (rantai periwayatan) yang bersambung hingga ke sumber asal, seperti Nabi Muhammad ﷺ.
Tanpa ijazah, seseorang tidak memiliki legitimasi penuh untuk meneruskan ilmu tersebut kepada orang lain. Tradisi ini menjaga keaslian ilmu, mencegah penyimpangan, dan memastikan bahwa pengetahuan disampaikan melalui jalur terpercaya.
Bahkan sistem pendidikan modern di Barat terinspirasi dari model ijazah ini, yang sudah ada ratusan tahun sebelumnya di dunia Islam.
Jadi, ijazah bukan hanya "surat tanda lulus". Ia adalah simbol kepercayaan, tanggung jawab, dan kelanjutan rantai ilmu dari generasi ke generasi.
Di zaman sekarang, ketika banyak orang berburu gelar akademik tanpa dasar otoritas yang jelas, mengingat kembali makna asli ijazah bisa menjadi pengingat penting: ilmu bukan milik pribadi, melainkan amanah yang harus dijaga dan disampaikan dengan izin yang sah.
===
Ijazahmu asli, kan?
andpho retweeted
"Ingatlah bahwa kita akan mati, memento mori".
Pas gue S1 ambil filsafat, pernah sekali di matkul Eksistensialisme kami semua disuruh menulis soal kematian. Gue cuma bisa nulis perihal betapa niscayanya kematian, bahwa karena kita fana maka kita harus menghabiskan lebih banyak waktu bersama orang-orang yg kita cinta. Narasinya masih external-biased, gue lupa bahkan belum bisa memahami kematian untuk diri gue sendiri.
Kita sedih saat ingat bahwa orang-orang yg kita cintai suatu saat akan mati. Bahkan mungkin beberapa dari kita udah pernah mengalami fase grieving, kita jadi saksi atas kematian orang lain.
Tapi kita sering lupa, jangankan mereka... kita sendiri juga akan mati.
Kita sering pakai kepergian orang lain sebagai peringatan, tapi kita lupa menjadikannya sebagai cermin.
Kita lebih gampang menghadapi kematian orang lain karena kita bisa lihat itu semua dari luar, memprosesnya sebagai peristiwa yg terjadi pada dunia. Tapi kematian kita sendiri selalu di ujung cakrawala, justru karena itu paling mudah diabaikan.
Kita tuh lucu yah kadang... Kalo orang terdekat sakit, mungkin kita tiba-tiba jadi 'hadir'. Kita telfon mereka lebih sering, jengukin, kita ungkapin bentuk sayang tanpa ragu.
Tapi pernah gak nanya ke diri sendiri, "kalo aku besok gak ada, apakah hari ini cukup begini adanya?"
Apakah cara gue hidup hari ini adalah cara yang akan gue setujui kalo gue tahu ini hari terakhir gue?
Apakah gue hidup dengan sadar, atau cuma gerak, nunda, menghindar, nunggu waktu yg "tepat" yg mungkin ga pernah dateng?
Kalo kita belanja ke supermarket, makin banyak yg kita beli makin lama kita di kasir. Hidup juga begitu ke kita. Whatever we do, we will pay for it.
Setiap pilihan yg kita buat, setiap hal yg kita ambil dan kita tinggalkan, setiap momen yg kita isi atau kita biarkan kosong -- semua itu membentuk antrian yg harus kita pertanggungjawabkan, bukan kepada Tuhan atau kepada orang lain, tapi kepada diri kita sendiri.
So, 'memento mori, memento vivere -- ingatlah kita akan mati, maka ingatlah untuk hidup'.
Semoga kita gak pernah lupa untuk hidup untuk diri sendiri, dan kapanpun kita harus duduk bareng kematian, semoga kita udah memahami apakah kita benar-benar sudah hidup untuk diri sendiri.
Jangan keras-keras sama diri sendiri ya? Jaga kesehatan jiwa dan raga selagi mereka masih bersama.
Salah satu pelajaran berharga yang gue sadari di tahun 2025.
Mau segila apapun grinding and hustling, hasil luar biasa yg didapatkan di usia muda dengan mengorbankan pribadi terhadap isolasi sosial untuk pengkultusan fokus gak akan pernah bisa mengkompensasi waktu kita di masa tua.
Spend so many time with people around you. Your family, your friends, your loved one.
Sendiri itu niscaya, self-isolation is an option.
... Jebakan psikologis karena masalah struktural yang dipahami sebagai kegagalan personal.
theconversation.com/banyak-o…
andpho retweeted
JANGAN UMBAR KESEDIHAN DI MEDSOS
Imam Syafii berkata bahwa keagungan seseorang bisa dinilai dari 3 hal:
1. Menyembunyikan kefakiran sampai orang² mengira bahwa kamu orang kaya.
2. Menyembunyikan marah sampai orang² mengira kalau kamu ridha.
3. Menyembunyikan kesengsaraan sampai orang² mengira kamu selalu diberi nikmat oleh Allah.
Intinya, jangan suka umbar kesengsaraan kita. Terutama di medsos.
andpho retweeted
The safest way to travel is by plane. Do you know why?
Because they crash.
A few months ago, I learned a concept called Black Box Thinking which is a system that defines how entire industries respond to failure.
In aviation, when a plane crashes, they don't just look for who to blame.
They find a device called a Black Box, retrieve the data, and then ask what went wrong with the system.
And there is a reason for this.
To explain this, there is a famous story of a crash involving an Asian airline years ago.
When investigators listened to the recording from the black box, they found the engine didn't just fail on its own, the junior pilot actually noticed a mistake.
But because of a cultural hierarchy in Asia that demanded absolute respect for elders, he didn't question his senior pilot.
Instead, he hinted and spoke softly and the plane crashed.
That tragedy changed aviation safety forever.
It moved the focus from "Who made the mistake?" to "Why did the system allow this mistake?"
As we stand on the 29th of December, looking back at 2025, I want you to adopt this strategy of Black Box Thinking.
Most of us look at our failures this year and feel shame.
We hide the crash, and blame the economy, government, or something that does not exist.
But Black Box thinking demands a harder question: "How did I contribute to this problem?"
Did I stay silent when I should have spoken up?
Did I rely on motivation instead of a system?
Did I ignore the data because of my ego?
Don't bury your failures of 2025.
Open the box and analyze it.
Because that is the only way to fly safer in 2026.
andpho retweeted
advice ke sesama laki-laki:
upgrade skill, upgrade referensi, upgrade networking dan pertemanan, kurang2in nongkrong kalau tidak berfaedah, kurang2in gibah tidak produktif.
dulu saya fikir mindset itu cuma akal-akalan motivator aja karna kok dibahas mulu, tapi sekarang saya paham mindset itu penting sekali.
apa yg kita tonton, apa yg kita baca dan dengan siapa kita bergaul mempengaruhi cara pandang kita dalam hidup.
bahkan 1 kejadian yg sama bisa mendapatkan respon yg berbeda2.
saya selalu berusaha untuk berpikir bagaimana suatu kejadian bisa membuat saya bisa upgrade dan terus tumbuh.
buat temen2 yg masih berjuang apapun pekerjaannya, smg Allah mudahkan, lancarkan rezekinya, sehat2an keluarganya, dikuatkan pundaknya.
dunia itu kejam dan tidak adil. jadi yuk kita semangat :')
This Post is from a suspended account. Learn more





















