食と芸術のコラボレーション
Kita sering sibuk memperbaiki penampilan dan mengejar pencapaian, tapi lupa bahwa yang paling perlu dilatih adalah isi diri kita sendiri. Hati, mata, dan mulut itu kelihatannya sepele, padahal dari tiga hal inilah orang menilai siapa kita sebenarnya.
Hati yang nggak dididik gampang sekali merasa paling. Paling pintar, paling benar, paling berjasa. Padahal apa yang kita punya hari ini nggak pernah benar-benar lahir dari diri sendiri. Ada doa orang tua, ada guru yang sabar, ada kesempatan yang kebetulan datang. Hati yang terdidik tahu cara bersyukur tanpa merasa lebih tinggi dari siapa pun.
Mata juga perlu dilatih. Kita terlalu cepat menilai orang dari pakaiannya, pekerjaannya, atau latar belakangnya. Padahal kita nggak pernah tahu seberapa berat perjuangan di balik penampilan sederhana itu. Bisa jadi orang yang kita remehkan justru punya ketulusan dan kebijaksanaan yang nggak kita miliki.
Lalu ada mulut, bagian yang paling cepat bekerja dan paling susah dikendalikan. Satu kalimat yang keluar dalam hitungan detik bisa membekas bertahun-tahun di hati orang lain. Sindiran dan candaan yang kebablasan mungkin terasa ringan buat kita, tapi belum tentu buat yang mendengarnya. Luka karena kata-kata memang nggak berdarah, tapi sering lebih lama sembuhnya.
Ketiganya saling berhubungan. Hati yang rendah melahirkan pandangan yang lembut, dan pandangan yang lembut menuntun ucapan yang menyejukkan. Kalau salah satunya dibiarkan liar, yang lain ikut terseret.
Jadi mulailah dari hal kecil: menahan diri dari pamer, menahan mata dari menghakimi, dan menahan lidah dari melukai. Kita mungkin nggak bisa mengubah dunia, tapi kita bisa memastikan orang yang bertemu dengan kita pulang dengan perasaan lebih baik.
時間がすべてを癒してくれる
Kita sering sibuk memperbaiki penampilan dan mengejar pencapaian, tapi lupa bahwa yang paling perlu dilatih adalah isi diri kita sendiri. Hati, mata, dan mulut itu kelihatannya sepele, padahal dari tiga hal inilah orang menilai siapa kita sebenarnya.
Hati yang nggak dididik gampang sekali merasa paling. Paling pintar, paling benar, paling berjasa. Padahal apa yang kita punya hari ini nggak pernah benar-benar lahir dari diri sendiri. Ada doa orang tua, ada guru yang sabar, ada kesempatan yang kebetulan datang. Hati yang terdidik tahu cara bersyukur tanpa merasa lebih tinggi dari siapa pun.
Mata juga perlu dilatih. Kita terlalu cepat menilai orang dari pakaiannya, pekerjaannya, atau latar belakangnya. Padahal kita nggak pernah tahu seberapa berat perjuangan di balik penampilan sederhana itu. Bisa jadi orang yang kita remehkan justru punya ketulusan dan kebijaksanaan yang nggak kita miliki.
Lalu ada mulut, bagian yang paling cepat bekerja dan paling susah dikendalikan. Satu kalimat yang keluar dalam hitungan detik bisa membekas bertahun-tahun di hati orang lain. Sindiran dan candaan yang kebablasan mungkin terasa ringan buat kita, tapi belum tentu buat yang mendengarnya. Luka karena kata-kata memang nggak berdarah, tapi sering lebih lama sembuhnya.
Ketiganya saling berhubungan. Hati yang rendah melahirkan pandangan yang lembut, dan pandangan yang lembut menuntun ucapan yang menyejukkan. Kalau salah satunya dibiarkan liar, yang lain ikut terseret.
Jadi mulailah dari hal kecil: menahan diri dari pamer, menahan mata dari menghakimi, dan menahan lidah dari melukai. Kita mungkin nggak bisa mengubah dunia, tapi kita bisa memastikan orang yang bertemu dengan kita pulang dengan perasaan lebih baik.
結果を考慮に入れなければならない
Kita sering sibuk memperbaiki penampilan dan mengejar pencapaian, tapi lupa bahwa yang paling perlu dilatih adalah isi diri kita sendiri. Hati, mata, dan mulut itu kelihatannya sepele, padahal dari tiga hal inilah orang menilai siapa kita sebenarnya.
Hati yang nggak dididik gampang sekali merasa paling. Paling pintar, paling benar, paling berjasa. Padahal apa yang kita punya hari ini nggak pernah benar-benar lahir dari diri sendiri. Ada doa orang tua, ada guru yang sabar, ada kesempatan yang kebetulan datang. Hati yang terdidik tahu cara bersyukur tanpa merasa lebih tinggi dari siapa pun.
Mata juga perlu dilatih. Kita terlalu cepat menilai orang dari pakaiannya, pekerjaannya, atau latar belakangnya. Padahal kita nggak pernah tahu seberapa berat perjuangan di balik penampilan sederhana itu. Bisa jadi orang yang kita remehkan justru punya ketulusan dan kebijaksanaan yang nggak kita miliki.
Lalu ada mulut, bagian yang paling cepat bekerja dan paling susah dikendalikan. Satu kalimat yang keluar dalam hitungan detik bisa membekas bertahun-tahun di hati orang lain. Sindiran dan candaan yang kebablasan mungkin terasa ringan buat kita, tapi belum tentu buat yang mendengarnya. Luka karena kata-kata memang nggak berdarah, tapi sering lebih lama sembuhnya.
Ketiganya saling berhubungan. Hati yang rendah melahirkan pandangan yang lembut, dan pandangan yang lembut menuntun ucapan yang menyejukkan. Kalau salah satunya dibiarkan liar, yang lain ikut terseret.
Jadi mulailah dari hal kecil: menahan diri dari pamer, menahan mata dari menghakimi, dan menahan lidah dari melukai. Kita mungkin nggak bisa mengubah dunia, tapi kita bisa memastikan orang yang bertemu dengan kita pulang dengan perasaan lebih baik.
この唐辛子はこんな結末になるとは思っていなかった
Kita sering sibuk memperbaiki penampilan dan mengejar pencapaian, tapi lupa bahwa yang paling perlu dilatih adalah isi diri kita sendiri. Hati, mata, dan mulut itu kelihatannya sepele, padahal dari tiga hal inilah orang menilai siapa kita sebenarnya.
Hati yang nggak dididik gampang sekali merasa paling. Paling pintar, paling benar, paling berjasa. Padahal apa yang kita punya hari ini nggak pernah benar-benar lahir dari diri sendiri. Ada doa orang tua, ada guru yang sabar, ada kesempatan yang kebetulan datang. Hati yang terdidik tahu cara bersyukur tanpa merasa lebih tinggi dari siapa pun.
Mata juga perlu dilatih. Kita terlalu cepat menilai orang dari pakaiannya, pekerjaannya, atau latar belakangnya. Padahal kita nggak pernah tahu seberapa berat perjuangan di balik penampilan sederhana itu. Bisa jadi orang yang kita remehkan justru punya ketulusan dan kebijaksanaan yang nggak kita miliki.
Lalu ada mulut, bagian yang paling cepat bekerja dan paling susah dikendalikan. Satu kalimat yang keluar dalam hitungan detik bisa membekas bertahun-tahun di hati orang lain. Sindiran dan candaan yang kebablasan mungkin terasa ringan buat kita, tapi belum tentu buat yang mendengarnya. Luka karena kata-kata memang nggak berdarah, tapi sering lebih lama sembuhnya.
Ketiganya saling berhubungan. Hati yang rendah melahirkan pandangan yang lembut, dan pandangan yang lembut menuntun ucapan yang menyejukkan. Kalau salah satunya dibiarkan liar, yang lain ikut terseret.
Jadi mulailah dari hal kecil: menahan diri dari pamer, menahan mata dari menghakimi, dan menahan lidah dari melukai. Kita mungkin nggak bisa mengubah dunia, tapi kita bisa memastikan orang yang bertemu dengan kita pulang dengan perasaan lebih baik.
Kita sering sibuk memperbaiki penampilan dan mengejar pencapaian, tapi lupa bahwa yang paling perlu dilatih adalah isi diri kita sendiri. Hati, mata, dan mulut itu kelihatannya sepele, padahal dari tiga hal inilah orang menilai siapa kita sebenarnya.
Hati yang nggak dididik gampang sekali merasa paling. Paling pintar, paling benar, paling berjasa. Padahal apa yang kita punya hari ini nggak pernah benar-benar lahir dari diri sendiri. Ada doa orang tua, ada guru yang sabar, ada kesempatan yang kebetulan datang. Hati yang terdidik tahu cara bersyukur tanpa merasa lebih tinggi dari siapa pun.
Mata juga perlu dilatih. Kita terlalu cepat menilai orang dari pakaiannya, pekerjaannya, atau latar belakangnya. Padahal kita nggak pernah tahu seberapa berat perjuangan di balik penampilan sederhana itu. Bisa jadi orang yang kita remehkan justru punya ketulusan dan kebijaksanaan yang nggak kita miliki.
Lalu ada mulut, bagian yang paling cepat bekerja dan paling susah dikendalikan. Satu kalimat yang keluar dalam hitungan detik bisa membekas bertahun-tahun di hati orang lain. Sindiran dan candaan yang kebablasan mungkin terasa ringan buat kita, tapi belum tentu buat yang mendengarnya. Luka karena kata-kata memang nggak berdarah, tapi sering lebih lama sembuhnya.
Ketiganya saling berhubungan. Hati yang rendah melahirkan pandangan yang lembut, dan pandangan yang lembut menuntun ucapan yang menyejukkan. Kalau salah satunya dibiarkan liar, yang lain ikut terseret.
Jadi mulailah dari hal kecil: menahan diri dari pamer, menahan mata dari menghakimi, dan menahan lidah dari melukai. Kita mungkin nggak bisa mengubah dunia, tapi kita bisa memastikan orang yang bertemu dengan kita pulang dengan perasaan lebih baik.
Kita sering sibuk memperbaiki penampilan dan mengejar pencapaian, tapi lupa bahwa yang paling perlu dilatih adalah isi diri kita sendiri. Hati, mata, dan mulut itu kelihatannya sepele, padahal dari tiga hal inilah orang menilai siapa kita sebenarnya.
Hati yang nggak dididik gampang sekali merasa paling. Paling pintar, paling benar, paling berjasa. Padahal apa yang kita punya hari ini nggak pernah benar-benar lahir dari diri sendiri. Ada doa orang tua, ada guru yang sabar, ada kesempatan yang kebetulan datang. Hati yang terdidik tahu cara bersyukur tanpa merasa lebih tinggi dari siapa pun.
Mata juga perlu dilatih. Kita terlalu cepat menilai orang dari pakaiannya, pekerjaannya, atau latar belakangnya. Padahal kita nggak pernah tahu seberapa berat perjuangan di balik penampilan sederhana itu. Bisa jadi orang yang kita remehkan justru punya ketulusan dan kebijaksanaan yang nggak kita miliki.
Lalu ada mulut, bagian yang paling cepat bekerja dan paling susah dikendalikan. Satu kalimat yang keluar dalam hitungan detik bisa membekas bertahun-tahun di hati orang lain. Sindiran dan candaan yang kebablasan mungkin terasa ringan buat kita, tapi belum tentu buat yang mendengarnya. Luka karena kata-kata memang nggak berdarah, tapi sering lebih lama sembuhnya.
Ketiganya saling berhubungan. Hati yang rendah melahirkan pandangan yang lembut, dan pandangan yang lembut menuntun ucapan yang menyejukkan. Kalau salah satunya dibiarkan liar, yang lain ikut terseret.
Jadi mulailah dari hal kecil: menahan diri dari pamer, menahan mata dari menghakimi, dan menahan lidah dari melukai. Kita mungkin nggak bisa mengubah dunia, tapi kita bisa memastikan orang yang bertemu dengan kita pulang dengan perasaan lebih baik.
Arta retweeted
階段の達人、エキサイティングなゲームプレイ
Kita sering sibuk memperbaiki penampilan dan mengejar pencapaian, tapi lupa bahwa yang paling perlu dilatih adalah isi diri kita sendiri. Hati, mata, dan mulut itu kelihatannya sepele, padahal dari tiga hal inilah orang menilai siapa kita sebenarnya.
Hati yang nggak dididik gampang sekali merasa paling. Paling pintar, paling benar, paling berjasa. Padahal apa yang kita punya hari ini nggak pernah benar-benar lahir dari diri sendiri. Ada doa orang tua, ada guru yang sabar, ada kesempatan yang kebetulan datang. Hati yang terdidik tahu cara bersyukur tanpa merasa lebih tinggi dari siapa pun.
Mata juga perlu dilatih. Kita terlalu cepat menilai orang dari pakaiannya, pekerjaannya, atau latar belakangnya. Padahal kita nggak pernah tahu seberapa berat perjuangan di balik penampilan sederhana itu. Bisa jadi orang yang kita remehkan justru punya ketulusan dan kebijaksanaan yang nggak kita miliki.
Lalu ada mulut, bagian yang paling cepat bekerja dan paling susah dikendalikan. Satu kalimat yang keluar dalam hitungan detik bisa membekas bertahun-tahun di hati orang lain. Sindiran dan candaan yang kebablasan mungkin terasa ringan buat kita, tapi belum tentu buat yang mendengarnya. Luka karena kata-kata memang nggak berdarah, tapi sering lebih lama sembuhnya.
Ketiganya saling berhubungan. Hati yang rendah melahirkan pandangan yang lembut, dan pandangan yang lembut menuntun ucapan yang menyejukkan. Kalau salah satunya dibiarkan liar, yang lain ikut terseret.
Jadi mulailah dari hal kecil: menahan diri dari pamer, menahan mata dari menghakimi, dan menahan lidah dari melukai. Kita mungkin nggak bisa mengubah dunia, tapi kita bisa memastikan orang yang bertemu dengan kita pulang dengan perasaan lebih baik.
Arta retweeted
Smart lifehacks repairing old tire
Kita sering sibuk memperbaiki penampilan dan mengejar pencapaian, tapi lupa bahwa yang paling perlu dilatih adalah isi diri kita sendiri. Hati, mata, dan mulut itu kelihatannya sepele, padahal dari tiga hal inilah orang menilai siapa kita sebenarnya.
Hati yang nggak dididik gampang sekali merasa paling. Paling pintar, paling benar, paling berjasa. Padahal apa yang kita punya hari ini nggak pernah benar-benar lahir dari diri sendiri. Ada doa orang tua, ada guru yang sabar, ada kesempatan yang kebetulan datang. Hati yang terdidik tahu cara bersyukur tanpa merasa lebih tinggi dari siapa pun.
Mata juga perlu dilatih. Kita terlalu cepat menilai orang dari pakaiannya, pekerjaannya, atau latar belakangnya. Padahal kita nggak pernah tahu seberapa berat perjuangan di balik penampilan sederhana itu. Bisa jadi orang yang kita remehkan justru punya ketulusan dan kebijaksanaan yang nggak kita miliki.
Lalu ada mulut, bagian yang paling cepat bekerja dan paling susah dikendalikan. Satu kalimat yang keluar dalam hitungan detik bisa membekas bertahun-tahun di hati orang lain. Sindiran dan candaan yang kebablasan mungkin terasa ringan buat kita, tapi belum tentu buat yang mendengarnya. Luka karena kata-kata memang nggak berdarah, tapi sering lebih lama sembuhnya.
Ketiganya saling berhubungan. Hati yang rendah melahirkan pandangan yang lembut, dan pandangan yang lembut menuntun ucapan yang menyejukkan. Kalau salah satunya dibiarkan liar, yang lain ikut terseret.
Jadi mulailah dari hal kecil: menahan diri dari pamer, menahan mata dari menghakimi, dan menahan lidah dari melukai. Kita mungkin nggak bisa mengubah dunia, tapi kita bisa memastikan orang yang bertemu dengan kita pulang dengan perasaan lebih baik.
Arta retweeted
Heater installation that everyone should know
Kita sering sibuk memperbaiki penampilan dan mengejar pencapaian, tapi lupa bahwa yang paling perlu dilatih adalah isi diri kita sendiri. Hati, mata, dan mulut itu kelihatannya sepele, padahal dari tiga hal inilah orang menilai siapa kita sebenarnya.
Hati yang nggak dididik gampang sekali merasa paling. Paling pintar, paling benar, paling berjasa. Padahal apa yang kita punya hari ini nggak pernah benar-benar lahir dari diri sendiri. Ada doa orang tua, ada guru yang sabar, ada kesempatan yang kebetulan datang. Hati yang terdidik tahu cara bersyukur tanpa merasa lebih tinggi dari siapa pun.
Mata juga perlu dilatih. Kita terlalu cepat menilai orang dari pakaiannya, pekerjaannya, atau latar belakangnya. Padahal kita nggak pernah tahu seberapa berat perjuangan di balik penampilan sederhana itu. Bisa jadi orang yang kita remehkan justru punya ketulusan dan kebijaksanaan yang nggak kita miliki.
Lalu ada mulut, bagian yang paling cepat bekerja dan paling susah dikendalikan. Satu kalimat yang keluar dalam hitungan detik bisa membekas bertahun-tahun di hati orang lain. Sindiran dan candaan yang kebablasan mungkin terasa ringan buat kita, tapi belum tentu buat yang mendengarnya. Luka karena kata-kata memang nggak berdarah, tapi sering lebih lama sembuhnya.
Ketiganya saling berhubungan. Hati yang rendah melahirkan pandangan yang lembut, dan pandangan yang lembut menuntun ucapan yang menyejukkan. Kalau salah satunya dibiarkan liar, yang lain ikut terseret.
Jadi mulailah dari hal kecil: menahan diri dari pamer, menahan mata dari menghakimi, dan menahan lidah dari melukai. Kita mungkin nggak bisa mengubah dunia, tapi kita bisa memastikan orang yang bertemu dengan kita pulang dengan perasaan lebih baik.
Arta retweeted
Pressing youtube logo using ancient technology
Kita sering sibuk memperbaiki penampilan dan mengejar pencapaian, tapi lupa bahwa yang paling perlu dilatih adalah isi diri kita sendiri. Hati, mata, dan mulut itu kelihatannya sepele, padahal dari tiga hal inilah orang menilai siapa kita sebenarnya.
Hati yang nggak dididik gampang sekali merasa paling. Paling pintar, paling benar, paling berjasa. Padahal apa yang kita punya hari ini nggak pernah benar-benar lahir dari diri sendiri. Ada doa orang tua, ada guru yang sabar, ada kesempatan yang kebetulan datang. Hati yang terdidik tahu cara bersyukur tanpa merasa lebih tinggi dari siapa pun.
Mata juga perlu dilatih. Kita terlalu cepat menilai orang dari pakaiannya, pekerjaannya, atau latar belakangnya. Padahal kita nggak pernah tahu seberapa berat perjuangan di balik penampilan sederhana itu. Bisa jadi orang yang kita remehkan justru punya ketulusan dan kebijaksanaan yang nggak kita miliki.
Lalu ada mulut, bagian yang paling cepat bekerja dan paling susah dikendalikan. Satu kalimat yang keluar dalam hitungan detik bisa membekas bertahun-tahun di hati orang lain. Sindiran dan candaan yang kebablasan mungkin terasa ringan buat kita, tapi belum tentu buat yang mendengarnya. Luka karena kata-kata memang nggak berdarah, tapi sering lebih lama sembuhnya.
Ketiganya saling berhubungan. Hati yang rendah melahirkan pandangan yang lembut, dan pandangan yang lembut menuntun ucapan yang menyejukkan. Kalau salah satunya dibiarkan liar, yang lain ikut terseret.
Jadi mulailah dari hal kecil: menahan diri dari pamer, menahan mata dari menghakimi, dan menahan lidah dari melukai. Kita mungkin nggak bisa mengubah dunia, tapi kita bisa memastikan orang yang bertemu dengan kita pulang dengan perasaan lebih baik.
Arta retweeted
Guess how much gold in this 1M subs YOUTUBE play button
Kita sering sibuk memperbaiki penampilan dan mengejar pencapaian, tapi lupa bahwa yang paling perlu dilatih adalah isi diri kita sendiri. Hati, mata, dan mulut itu kelihatannya sepele, padahal dari tiga hal inilah orang menilai siapa kita sebenarnya.
Hati yang nggak dididik gampang sekali merasa paling. Paling pintar, paling benar, paling berjasa. Padahal apa yang kita punya hari ini nggak pernah benar-benar lahir dari diri sendiri. Ada doa orang tua, ada guru yang sabar, ada kesempatan yang kebetulan datang. Hati yang terdidik tahu cara bersyukur tanpa merasa lebih tinggi dari siapa pun.
Mata juga perlu dilatih. Kita terlalu cepat menilai orang dari pakaiannya, pekerjaannya, atau latar belakangnya. Padahal kita nggak pernah tahu seberapa berat perjuangan di balik penampilan sederhana itu. Bisa jadi orang yang kita remehkan justru punya ketulusan dan kebijaksanaan yang nggak kita miliki.
Lalu ada mulut, bagian yang paling cepat bekerja dan paling susah dikendalikan. Satu kalimat yang keluar dalam hitungan detik bisa membekas bertahun-tahun di hati orang lain. Sindiran dan candaan yang kebablasan mungkin terasa ringan buat kita, tapi belum tentu buat yang mendengarnya. Luka karena kata-kata memang nggak berdarah, tapi sering lebih lama sembuhnya.
Ketiganya saling berhubungan. Hati yang rendah melahirkan pandangan yang lembut, dan pandangan yang lembut menuntun ucapan yang menyejukkan. Kalau salah satunya dibiarkan liar, yang lain ikut terseret.
Jadi mulailah dari hal kecil: menahan diri dari pamer, menahan mata dari menghakimi, dan menahan lidah dari melukai. Kita mungkin nggak bisa mengubah dunia, tapi kita bisa memastikan orang yang bertemu dengan kita pulang dengan perasaan lebih baik.
チップ回収プロセス
Kita sering sibuk memperbaiki penampilan dan mengejar pencapaian, tapi lupa bahwa yang paling perlu dilatih adalah isi diri kita sendiri. Hati, mata, dan mulut itu kelihatannya sepele, padahal dari tiga hal inilah orang menilai siapa kita sebenarnya.
Hati yang nggak dididik gampang sekali merasa paling. Paling pintar, paling benar, paling berjasa. Padahal apa yang kita punya hari ini nggak pernah benar-benar lahir dari diri sendiri. Ada doa orang tua, ada guru yang sabar, ada kesempatan yang kebetulan datang. Hati yang terdidik tahu cara bersyukur tanpa merasa lebih tinggi dari siapa pun.
Mata juga perlu dilatih. Kita terlalu cepat menilai orang dari pakaiannya, pekerjaannya, atau latar belakangnya. Padahal kita nggak pernah tahu seberapa berat perjuangan di balik penampilan sederhana itu. Bisa jadi orang yang kita remehkan justru punya ketulusan dan kebijaksanaan yang nggak kita miliki.
Lalu ada mulut, bagian yang paling cepat bekerja dan paling susah dikendalikan. Satu kalimat yang keluar dalam hitungan detik bisa membekas bertahun-tahun di hati orang lain. Sindiran dan candaan yang kebablasan mungkin terasa ringan buat kita, tapi belum tentu buat yang mendengarnya. Luka karena kata-kata memang nggak berdarah, tapi sering lebih lama sembuhnya.
Ketiganya saling berhubungan. Hati yang rendah melahirkan pandangan yang lembut, dan pandangan yang lembut menuntun ucapan yang menyejukkan. Kalau salah satunya dibiarkan liar, yang lain ikut terseret.
Jadi mulailah dari hal kecil: menahan diri dari pamer, menahan mata dari menghakimi, dan menahan lidah dari melukai. Kita mungkin nggak bisa mengubah dunia, tapi kita bisa memastikan orang yang bertemu dengan kita pulang dengan perasaan lebih baik.
誰もが望む仕事
Kita sering sibuk memperbaiki penampilan dan mengejar pencapaian, tapi lupa bahwa yang paling perlu dilatih adalah isi diri kita sendiri. Hati, mata, dan mulut itu kelihatannya sepele, padahal dari tiga hal inilah orang menilai siapa kita sebenarnya.
Hati yang nggak dididik gampang sekali merasa paling. Paling pintar, paling benar, paling berjasa. Padahal apa yang kita punya hari ini nggak pernah benar-benar lahir dari diri sendiri. Ada doa orang tua, ada guru yang sabar, ada kesempatan yang kebetulan datang. Hati yang terdidik tahu cara bersyukur tanpa merasa lebih tinggi dari siapa pun.
Mata juga perlu dilatih. Kita terlalu cepat menilai orang dari pakaiannya, pekerjaannya, atau latar belakangnya. Padahal kita nggak pernah tahu seberapa berat perjuangan di balik penampilan sederhana itu. Bisa jadi orang yang kita remehkan justru punya ketulusan dan kebijaksanaan yang nggak kita miliki.
Lalu ada mulut, bagian yang paling cepat bekerja dan paling susah dikendalikan. Satu kalimat yang keluar dalam hitungan detik bisa membekas bertahun-tahun di hati orang lain. Sindiran dan candaan yang kebablasan mungkin terasa ringan buat kita, tapi belum tentu buat yang mendengarnya. Luka karena kata-kata memang nggak berdarah, tapi sering lebih lama sembuhnya.
Ketiganya saling berhubungan. Hati yang rendah melahirkan pandangan yang lembut, dan pandangan yang lembut menuntun ucapan yang menyejukkan. Kalau salah satunya dibiarkan liar, yang lain ikut terseret.
Jadi mulailah dari hal kecil: menahan diri dari pamer, menahan mata dari menghakimi, dan menahan lidah dari melukai. Kita mungkin nggak bisa mengubah dunia, tapi kita bisa memastikan orang yang bertemu dengan kita pulang dengan perasaan lebih baik.
最後まで見てください
Kita sering sibuk memperbaiki penampilan dan mengejar pencapaian, tapi lupa bahwa yang paling perlu dilatih adalah isi diri kita sendiri. Hati, mata, dan mulut itu kelihatannya sepele, padahal dari tiga hal inilah orang menilai siapa kita sebenarnya.
Hati yang nggak dididik gampang sekali merasa paling. Paling pintar, paling benar, paling berjasa. Padahal apa yang kita punya hari ini nggak pernah benar-benar lahir dari diri sendiri. Ada doa orang tua, ada guru yang sabar, ada kesempatan yang kebetulan datang. Hati yang terdidik tahu cara bersyukur tanpa merasa lebih tinggi dari siapa pun.
Mata juga perlu dilatih. Kita terlalu cepat menilai orang dari pakaiannya, pekerjaannya, atau latar belakangnya. Padahal kita nggak pernah tahu seberapa berat perjuangan di balik penampilan sederhana itu. Bisa jadi orang yang kita remehkan justru punya ketulusan dan kebijaksanaan yang nggak kita miliki.
Lalu ada mulut, bagian yang paling cepat bekerja dan paling susah dikendalikan. Satu kalimat yang keluar dalam hitungan detik bisa membekas bertahun-tahun di hati orang lain. Sindiran dan candaan yang kebablasan mungkin terasa ringan buat kita, tapi belum tentu buat yang mendengarnya. Luka karena kata-kata memang nggak berdarah, tapi sering lebih lama sembuhnya.
Ketiganya saling berhubungan. Hati yang rendah melahirkan pandangan yang lembut, dan pandangan yang lembut menuntun ucapan yang menyejukkan. Kalau salah satunya dibiarkan liar, yang lain ikut terseret.
Jadi mulailah dari hal kecil: menahan diri dari pamer, menahan mata dari menghakimi, dan menahan lidah dari melukai. Kita mungkin nggak bisa mengubah dunia, tapi kita bisa memastikan orang yang bertemu dengan kita pulang dengan perasaan lebih baik.






