Cath. retweeted
ᅠ
“That’s correct! Niffler.” Tongkat magisnya terayun ringan, memunculkan beberapa tulisan di hadapan kelas.
“Niffler ini memiliki tubuh yang menyerupai hewan pengerat dengan KKM XXX. Dan ciri khasnya apa?” Alexius sengaja menggantung kalimatnya sejenak sebelum melanjutkan, “Mereka menyukai benda yang berkilau dan logam.”
ᅠ

ALT NIFFLER * Klasifikasi Kementerian Sihir: XXX * Habitat asli: Britania Raya * Status: Masih ada (extant) * Diet: Herbivora * Karakteristik fisik: Tubuh menyerupai hewan pengerat, moncong panjang, rambut lebat berwarna hitam. * Perilaku khas: Memiliki ketertarikan kuat terhadap benda-benda berkilau dan logam.
Cath. retweeted
ᅠ
Tuan Harlow tersenyum mendengar beberapa jawaban yang terlontar dari para murid. “It’s okay, you did your best. No regrets, okay?”
Setelah memastikan suasana kelas cukup santai, wira itu segera mengarahkan pembicaraan pada materi. “Oke, langsung saja. Pada kelas kali ini kita akan mempelajari salah satu satwa gaib. These guys like shiny things. Ada yang bisa menebak?”
Form: s.id/COMC-QNAs
Sheet: s.id/COMC-Response
ᅠ
Cath. retweeted
ᅠ
Suara langkah kaki yang semakin mendekat akhirnya memperlihatkan sosok pria setinggi enam kaki yang berjalan menuju meja pengajar.
Dengan senyum ramah, Alexius menyapa seluruh kelas, “Halo, selamat malam, semuanya. Selamat datang di kelas CoMC. Bagi yang belum mengenal, saya Alexius Harlow, pengajar kalian.” Sang pria kemudian meletakkan kopernya di atas meja sebelum kembali menghadap para murid. “How’s O.W.L?”
ᅠ
Cath. retweeted
“Oops, mohon maaf terlambat sedikit.” Noah melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Class dismissed. Terima kasih sudah hadir dan sampai bertemu lagi, kids.” Noah mengayunkan tongkat sihir, mengembalikan kondisi kelas seperti sedia kala.
bit.ly/8A-Attendance.
Cath. retweeted
“Sedikit bonus bagi kalian yang ingin menjawab.” Noah membagikan selembar kertas kosong ke setiap meja.
“Silakan ikuti instruksi yang ada di papan. Jawaban kalian saya tunggu selambat-lambatnya pukul 11 malam ini.”
(Q3, Bonus Question) Form: bit.ly/8A-QnA.
Cath. retweeted
“Alam semesta itu … tidak pernah berhenti dari kesibukan. Ada bintang baru, ada pula bintang yang masa hidupnya habis.” Jelasnya, melipat tangan di dada.
“Selagi semesta masih tetap hidup, luar angkasa akan tetap seperti sekarang—gelap dan berhiaskan titik-titik cahaya.”
Cath. retweeted
“Mungkin akan muncul pertanyaan, jika seeemua cahaya dari objek luar angkasa akhirnya mencapai Bumi, apakah langit pada akhirnya akan menjadi sepenuhnya terang?” ia berhenti sejenak dan menaikkan alisnya.
“Well, tidak sesederhana itu juga, sebenarnya.”
Cath. retweeted
“Best sekali memang murid-murid saya.” Sang jaka menepuk tangan sebagai apresiasi sebelum mengganti materi di papan.
“Saat doppler shift terjadi, cahaya objek bergeser menuju panjang gelombang yang tidak mampu dilihat oleh mata manusia.”
Cath. retweeted
Replying to @StarlitKeeper
“Pada objek yang sangat jauh, pergerakan dapat menyebabkan mereka tidak terlihat meski cahayanya telah mencapai Bumi.” Noah bersandar pada meja.
“Inilah fenomena yang disebut sebagai The Doppler Shift. Siapa bisa jelaskan lebih lengkap?”
(Q2) QnA Form: bit.ly/8A-QnA.
Cath. retweeted
Replying to @ProfsDacre
“Psst, psst. Jangan lupa dimakan dan diminum, ya, kakak-kakak! Ini enak, lho. Oli sudah coba sore tadi.” Oli menyusuri seisi ruang dan membagikan kudapan dan minuman dingin ke meja setiap murid.
Cath. retweeted
“Ketiga, The Doppler Shift.” Noah menunjuk tulisan pada papan. “Ugh, maaf kalau yang ini mungkin akan sedikit membuat pusing.”
“Oli akan membagikan kudapan untuk kalian supaya tidak terlalu mual saat mendengar dongeng saya.”
Cath. retweeted
“Karena alam semesta memiliki usia yang terbatas, belum semua cahaya bintang yang sangat jauh telah sampai kepada kita di Bumi.”
Sang teruna beranjak dari kursinya, “Inilah salah satu alasan mengapa tidak setiap arah di langit dipenuhi oleh cahaya bintang.”
Cath. retweeted
Informasi berganti menuju poin kedua. “Pandangan kita ini terbatas, dengan atau tanpa teknologi Astronomi.”
Noah kembali menjelaskan, “Terdapat batas pada wilayah alam semesta yang dapat kita lihat. Wilayah ini disebut alam semesta teramati atau observable universe.”
Cath. retweeted
“Bagaimana jika gelembungnya lebih besar? Diameternya menjadi 1000 juta tahun misalnya.”
Sang wira kembali menjelaskan, “Meskipun jumlah bintang yang memberikan cahaya juga semakin banyak, setiap bintang yang jauh akan tampak lebih redup karena ‘gelembung’nya lebih besar."
Cath. retweeted
“Coba bayangkan alam semesta sebagai gelembung besar berdiameter 10 juta tahun cahaya.” Oli meniup gelembung sabun agar tampak dramatis.
“Jika terdapat setidaknya 12 bintang dalam gelembung besar tersebut, luar angkasa akan tetap gelap karena jarak bintang berjauhan.”
Cath. retweeted
“Di alam semesta yang sudah teramati, setidaknya terdapat 200 miliar triliun bintang.”
Noah berhenti sejenak, “Nah, bingung tidak, tuh, dengarnya? Miliar triliun? Kira-kira sebanyak itu bintang yang sudah pernah ditemukan atau diamati oleh para astronom.” lanjutnya.
Cath. retweeted
“Sebelum saya mulai, saya punya satu pertanyaan.” Noah duduk di kursi pengajar, maniknya menatap seisi kelas.
“Terdapat sebuah paradoks yang dinamai Paradoks Olbers. Ada yang bisa menjelaskan secara singkat mengenai paradoks ini?”
(Q1) QnA Form: bit.ly/8A-QnA.
Cath. retweeted
“Good job, @gospelofwinter.” Noah mengacungkan ibu jarinya. Sebuah judul materi muncul di papan tulis.
“Kalian semua benar. Pertanyaan di papan ini telah muncul sejak lama hingga memiliki nama khusus yakni Paradoks Olbers.”













