concisetuttle retweeted
Apakah pertumbuhan ekonomi kita "real" diangka 5.61%? Tapi kok dilapangan banyak yang ngeluh tambah sulit? Pengangguran turun ke 4,68%, Yang kerja tambah banyak, tapi kok dilapangan makin susah? Yuk kita bahas pelan pelan. Kamu enggak perlu background ekonomi untuk memahami tulisan ini sampai habis.
concisetuttle retweeted
“Kok Rupiah bisa selemah ini?"
Bahkan sampai kalah sama negara-negara yang lebih kecil seperti Yaman, dan Nigeria
Yuk kita coba bahas pelan pelan.
Kamu enggak perlu background ekonomi untuk memahami tulisan ini sampai habis.
concisetuttle retweeted
🚨BREAKING: Claude can now write your entire job application like a top recruiter.
Here are 10 prompts that turn a job description into a tailored CV, cover letter, and interview prep guide in under 5 minutes.
(Save this)
concisetuttle retweeted
Untuk mahasiswa ekonomi atau yg tertarik international finance, ada banyak pertanyaan yg diajukan ke saya soal Krisis 98. Pertanyaan secara reguler diajukan setiap kali rupiah melemah. Platform X tentu bukan forum yg adil untuk membahas secara lengkap soal ini, krn keterbatasannya.
Yg paling baik adalah membaca kembali study2 tentang beberapa krisis yg dialami Indonesia. Sumber tiap krisis bisa berbeda.
Berikut saya berikan beberapa potongan dan referensi dari tulisan saya “Role of Exchange Rates in Threes Financial Shocks in Indonesia, yg di edit olen Maurice Obstfeld dan Douglas Irwin, dalam buku Floating Exchang Rate at Fitfy. Obsteld dan Irwin kerap dianggap “guru guru” dalam internationa trade and finance.
Dalam tulisan ini saya menunjukkan bagaimana tingkat bunga yg tinggi akibat inflasi yg tinggi mendorong private sector meminjam dari luar, dimana tingkat buat di luar negeri relative lebih rendah.
Dan krn depresiasi rupiah “ di garansi” 5% melalui managed floating exchange rate sejak 1978 membuat pelaku ekonomi menghiraukam resiko exchange rate. Pinjaman jangka pendek swasta naik.
Ketika peg rupiah harus dilepas oleh BI krn tekanan nilai tukar akibat krisis Thai Bath di Thailand, maka utang tsb dalam nilai rupiah melompat, ini yg disebut Carmen Reinhart dan Calvo sbg fear of floating.
Situasi ini dikombinasina dg banking sector yg buruk. NPL sangat tinggi dst. Silahkan membaca lengkapnya …
Menariknya ketika mulai mengadopsi flexible exchange rate, ia membantu untuk membuat pelaku pasar terbiasa dg resiko exchange rate dan membantu portfolio balancing mereka shg “risk” menjadi “calculated risk”. Lengkapnya bisa dibaca dalam buku ini
cup.columbia.edu/book/floati…
Untuk mhs ekonomi saya sangat menganjukan membaca buku ini, krn banyak guru”internationa finance” spt Frankel, Krugers, Helene Rey, Hyun Song Shin, Linda Goldber dsb menulis dalam buku ini.
Namun dalam chapter ini, dan juga dalam paper saya di Oxford Review of Economic Policy, “ The Impossibility of the impossible trinity? The case of Indonesia, link nya
academic.oup.com/oxrep/issue…
saya menunjukkan floating exchange rate ala Mundell-Flemming juga tdk bisa diterapkan sepenuhnya, krn costnya thd perekonomian juga besar terutama dalam kondisi arus modal yg volatile, krn itu Central Bank tetap perlu melalukan intervensi, bukan untuk pegging the level tetapi smoothing the volatility.
Karena itu perlu managing capital flow dan integrated framework. Silahkan membaca
Saya juga menulis
Perbandingan 3 krisis (Krisis 98, Glibal Financial Crisis dan Taper Tantrum) secara lebih rinci juga bisa dilihat dalam chapter saya Twenty Years after the Financial Crisis (free access) dalam buku yg diterbitkan oleh IMF (free access ini link nya elibrary.imf.org/display/boo…
Tentu tidak ada jawaban tunggal untuk issue ini. Tulisan2 ini adalah upaya untuk memahami apa yg terjadi dan tentu tidak bisa mengklaim sebagai satu2nya penjelas final. Ilmu pengetahun harus bisa dibuktikan salah, dan karena itulah pemikiran berkembang, krn ia tidak difinalkan. Dan paling tidak, ini membantu mengingatkan saya: bahwa saya belum selesai jg bodohnya.
concisetuttle retweeted
Kiamat Asam Sulfat: Bagaimana pemblokiran di Timur Tengah dan larangan ekspor China bisa memicu lumpuhnya smelter smelter raksasa nikel di Indonesia (dan siapa emiten yang akan diuntungkan).
Sejak akhir Februari 2026, konflik yang memanas di Timur Tengah menyebabkan penutupan efektif dan pembatasan navigasi yang ekstrem di Selat Hormuz. Jalur ini bukan cuma urat nadi minyak dan LNG global, tetapi juga rute utama pengiriman sulfur dan produk petrokimia. Mengingat negara negara Teluk terutama Arab Saudi, Qatar, dan UEA memproduksi sulfur sebagai produk sampingan dari banyaknya industri penyulingan minyak dan gas mereka, pemblokiran ini langsung memberhentikan supply sulfur lintas laut.
Produksi MHP Indonesia memang diproyeksikan menembus angka 700 kt hingga lebih dari 800 kt pada tahun 2026-2027.
Berdasarkan data terbaru dari Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) dan laporan perdagangan awal tahun ini, lebih dari 75% impor sulfur Indonesia berasal dari Timur Tengah terutama Arab Saudi dan Qatar. Pada tahun 2025 saja, Indonesia mengimpor lebih dari 5,3 juta ton sulfur, dan angka ini terus bertambah seiring beroperasinya smelter HPAL baru.
Perhitungan data ini sudah tepat. Proses HPAL untuk mengekstraksi nikel dari bijih limonit kadar rendah sangat butuh banyak asam. Rata rata industri membutuhkan 8 hingga 10 ton sulfur elemental atau sekitar 25-30 ton asam sulfat untuk memproduksi 1 ton ekuivalen logam nikel dalam bentuk MHP.
Dengan target produksi 600-800 kt MHP, industri domestik Indonesia membutuhkan sekitar 6 hingga 8 juta ton sulfur per tahun. Mengingat supply dari Selat Hormuz sekarang hilang, market domestik menghadapi supply shock yang sangat masif.
Asam sulfat adalah komponen biaya operasional terbesar dalam proses HPAL, seringkali memakan porsi 30% hingga 50% dari total biaya produksi (tergantung harga bahan baku saat itu).
Selama beberapa tahun terakhir, MHP Indonesia menikmati posisi di ujung kiri (biaya terendah) dari kurva biaya nikel global. Namun, dengan naiknya harga sulfur akibat kelangkaan, ditambah biaya premi asuransi pengiriman (war risk premium) dan perubahan rute logistik melewati Cape of Good Hope yang memakan waktu dan biaya ekstra, cost curve produsen HPAL Indonesia akan bergeser tajam ke kanan (naik).
Jika harga sulfur di spot market naik sementara harga nikel di LME (London Metal Exchange) tidak naik secara proporsional untuk mengompensasinya, margin produsen HPAL akan tergerus habis.
Cadangan pabrik rata rata hanya bertahan sekitar 2 bulan. Karena krisis Selat Hormuz mulai eskalasi secara drastis di akhir Februari hingga Maret 2026, kita saat ini berada tepat di ujung batas ketersediaan stok tersebut. Jika kargo sulfur alternatif misalnya dari Amerika Utara, Rusia, atau wilayah Asia lain tidak segera tiba untuk menutupi defisit bulanan sebesar 500.000 ton, kita mungkin akan mulai melihat pengumuman operasi, force majeure, atau penurunan tingkat utilisasi pabrik secara paksa di smelter smelter HPAL Morowali, Obi, dan Weda Bay dalam beberapa minggu ke depan.
concisetuttle retweeted
More smart analysis by @Gavekal brains
concisetuttle retweeted
Banyak yang baca harga oil futures lebih tinggi dari spot terus langsung bilang "pasar ekspektasi oil bakal naik." Ini salah kaprah yang lumayan umum.
Harga futures komoditas ga bisa dibaca sesederhana itu. Ada tiga komponen:
1. Spot price
2. Cost of carry (biaya nyimpen oil fisik: sewa tanker, opportunity cost modal), dan
3. Convenience yield (nilai punya barang fisiknya sekarang vs nanti).
Ekspektasi harga masa depan ga masuk formula ini.
Dari sini lahir dua kondisi: CONTANGO dan BACKWARDATION.
CONTANGO = futures > spot. Ini muncul di kondisi oversupply: convenience yield rendah karena ga ada urgensi punya oil fisik sekarang, storage masih oke. Ini justru sering dibaca "bullish", padahal sinyal yang lebih tepat adalah supply lagi aman, ga ada yang rebutan.
BACKWARDATION = futures < spot. Terjadi kalau convenience yield tinggi banget: kilang butuh oil sekarang, supply ketat, ketidakpastian tinggi. Orang rela bayar lebih mahal untuk delivery hari ini. Ini genuine "crisis premium."
Sekarang dengan Selat Hormuz ditutup Iran, pasar oil masuk backwardation tajam.
Jadi sebelum bilang "oil naik, beli ETF oil": cek dulu struktur futures-nya. Contango atau Backwardation.
concisetuttle retweeted
#ChartOfTheDay - #Urea #Ammonia
40% of GLOBAL urea shipment from the Middle East is essentially halted due to the closure of Strait of Hormuz.
Asia suffers the most, namely India, Thailand, and Turkey.
Without urea, there will be no fertilizer. Without fertilizer, crops yield will fall.
Do you know what is the SOLE FEEDSTOCK of urea?
Ammonia. And only ammonia.
There isn't any economically viable method to produce urea without ammonia.
Guess who are the world's largest ammonia exporters, and where does Indonesia sit?
And then, how do you make ammonia? Natural gas.
Piece the puzzles.
concisetuttle retweeted
Global Situation and Economic Outlook for 2026
scgr.co.jp/english/#:~:text=…
Beautifully done, broad yet concise, thoughtful, wide-ranging free slides by Sumitomo Corporation.
👏





































