bat 🦇 retweeted
(Terapis Pijat)
Pak Syarif
-part 2
TW, CW// 🔞🏳️🌈
"Nu, cepet banget itu bicep udah gede aja. Gym dimana?" Aku ngomentarin story WhatsApp Wisnu. Dia salah satu temen baik tapi ngokop. Udah, jangan ditanya ya gimana ceritanya aku punya temen baik tapi ngokop.
"Di xxxxx gym a. Ini aku udah mampu beli whey sama creatin haha, dulu mah susah banget nambah gede."
"Ikut lah, bisa harian kan?" Aku memang gak bisa member bulanan karna mobilitasku sangat tinggi. Pernah member di tempat gym lama bareng Wisnu, bayar sebulan, aku cuma datang sekali. Daripada rugi terus mending bayar harian.
* * *
Selang tiga hari, aku ngegym bareng Wisnu. Dia yang jemput aku katanya habis anter makanan titipan ibunya. Gym majapahit ini diisi sama monster-monster. Wisnu paling cupu. Salah, aku paling cupu. Badanku yang paling kurus dari semua yang datang pagi itu.
Dia salaman sama beberapa member yang gak lagi main alat. Ada satu yang menarik perhatianku, dia lagi Chest Fly. Dengan singlet yang ia pake, aku bisa liat otot bahu, bicep lengkap sama tricepnya, otot dada, dan...putingnya keluar satu. Kayak gak asing...oh, Pak Syarif!
Wisnu juga nyalamin pak Syarif dan langsung ngobrol lumayan seru. Anjing, suasananya langsung canggung antara aku dan pak Syarif. Sebenernya aku yang takut. Aku dan Wisnu berteman, dia pernah ngokop aku sekali dan aku bilang gak nyaman. Lalu aku pernah dipijet telanjang bulat oleh pak Syarif. Pokoknya aku gak mau mereka ngebahas aku nantinya.
"Oh ini yang kerja di perumahan xxx itu ya? Temennya Wisnu?" Pak Syarif tanyanya dengan nada ramah. Tapi aku gelisah. Takut ketauan. Untung Wisnu langsung sibuk pemanasan. Aku gak jawab pak Syarif, cuma senyum sambil manggut.
Selama gym, aku liat betapa menariknya pak Syarif. Di umur 36, ototnya masih kenceng banget, kulitnya lumayan bagus. Dan aku baru bisa liat dia seterbuka ini di gym. Waktu dia memijatku, dia masih pake kaos. Erangan dan desahan tiap dia angkat beban, hmmm, kebayang gimana kalo dia lagi sesi bercinta dengan istrinya, atau juga customernya.
* * *
"Kapan pijet lagi a?" Pesan pak Syarif ku terima satu jam setelah kami berpisah di gym. Aku bilang badanku masih enakan, jadi belum bakal pijet.
Seminggu kemudian dia tanya lagi, aku memang masih belum pengen pijet.
Jeda seminggu dia tanya lagi, karna aku masih belum mau dipijat di rumah kalo ada orang tuaku, aku tanya lah,
"Di tempat pak Syarif bisa gak?"
"Wah gak bisa, saya gak ada tempat."
Sampai sebulan dari pijet pertama, ada momen orang tuaku pergi, hanya menginap semalam sih. Di rumah ada akang-akang karyawan papa, ada juga mbak yang biasa bersih-bersih, gak apa lah.
* * *
Adekku masih kerja di Timur Tengah, kamarnya kosong. Itu kamar paling kecil yang ada di rumah. Dan karna dia kerja di luar lumayan lama, AC di kamarnya dicopot, gak ada satupun yang mau tidur disana.
"Sekarang di kamar aja pak, ada temen-temen kerja yang lain, gak enak kalo di ruang tengah." Walaupun akang-akang itu kemungkinan kecil banget lewat area situ, dan si mbak juga jarang mau kesitu kalo udah malem, aku tetep takut aja ketauan pijet telanjang bulat sama terapis yang gagah berotot.
Ku nyalakan kipas, dan ku lepaskan kaos serta boxerku, aku telanjang bulat lebih percaya diri dari sebelumnya. Pak Syarif udah keliatan salah tingkah. Tapi dia lepas celana panjangnya tanpa ijinku dulu. Ada satu bonus...dia lepas kaos lengan panjang dan ia sisakan singlet item yang ngepas di badannya yang berotot.
"Eh, gak apa-apa kan a saya mijetnya kayak gini?" Ia memastikan aku gak keberatan karna dari tadi aku gak lepas mandangin tubuh indahnya.
* * *
(Terapis Pijat)
TW, CW// 🔞🏳️🌈
Rumah kosong, orang tua lagi di kampung, kakak udah pindah karna tinggal bareng istri dan anaknya, adek lagi ada di timur tengah saat itu.
Emang sendirian di rumah bikin pikiran jadi ada-ada aja. Aku buka aplikasi hornet, ubah nama pengguna jadi "Cari Pijat", gak lupa dijelasin di bio "Pijat yang beneran enak ya bro bro ku sekalian"
Sengaja gak aku pasang foto sama sekali supaya yang chat adalah terapis beneran atau orang yang punya informasi tentang terapis.
Beruntung aku, gak lama ada beberapa chat masuk. Yang menarik adalah chat dari akun bernama 'Massage Lover',
"Aku punya daftar terapis, mau?" Ia gak basa-basi.
"Boleh, yang deket lokasi kita aja yak." Balasku.
"Cari yang bisa dipake gak?"
"Enggak, cuma butuh pijet beneran." Aku tegas.
"Oh ya ada namanya pak Syarif, dia satpam di xxx, teman gymku juga. Punya istri. Normal, jadi gak kasih plus-plus. Ini nomornya, bilang tau dari xxx temen gym dia, biar dia gak bingung."
Waktu udah hampir maghrib tapi aku chat aja dulu pak Syarif. Katanya dia bisa datang setelah isya. Oh, waktu yang tepat. Bisa minta sekalian scrub, abis itu aku langsung tidur karna gak ada rencana keluar rumah.
19.30, pesan dari pak Syarif ku terima. Dia udah sampai katanya. Ku suruh langsung masuk karna pintu gerbang gak aku kunci.
"Saya gak berani buka pintu, boleh dibukain a?" Pesannya setelah beberapa saat ku dengar motor terparkir. Sopan juga beliau.
Aku pakai singletku dulu supaya gak telanjang dada saat keluar.
Aku shock, orang yang disebut 'Pak' ini ternyata bisa dibilang masih mas-mas, abang-abang, aa-aa. Potongannya beneran kayak satpam. Badannya beneran keliatan rajin gym. Wajahnya belum keliatan bapak-bapak sama sekali. Rambutnya juga hitam dan lebat, cepak, khas satpam.
Karna aku cuma seorang diri di rumah, aku pijat di ruang tengah rumahku. Di depan tv ku pasang kasur lipat yang gak terlalu empuk. Aku gak suka kalau kasurnya terlalu empuk, badanku bisa amblas ketika ditekan.
Setelah mencuci tangan pak Syarif bertanya apakah aku udah siap pijat.
Aku gak jawab tapi langsung melepas singletku, meninggalkan boxer donker merk cole yang beli di matahari. Celana untuk tidur emang yang penting nyaman. Boxer ini enak banget dipake malam hari tanpa celana dalam.
Baru dipijet betisku, aku langsung kegirangan, "anjir pijetnya enak banget" ucapku dalam hati.
Naik ke paha, pak Syarif gak ragu buat memijat sampai ke pantat bagian bawah. Boxerku longgar, dia bisa dengan mudah masuk ke dalam sana.
Aku tau dia gak sengaja, tapi sekitar tiga kali jarinya nyentuh kantung biji zakarku. Yah walaupun dia gak niat gitu, namanya laki-laki, apalagi homo, berdesir lah darahku.
Naik lagi, kali ini dia tanpa risih mijet pinggang bawah sambil memelorotkan boxerku sedikit. Pantat bagian atasku kena. Dasar aku si eksibisionis, padahal dia gak kesusahan mijet tapi tetap aku tanya "susah ya pak mijetnya? Apa saya lepas aja?"
"Enggak susah sih a, tapi kalo aa nya mau lepas biar gak kotor gak apa-apa" nadanya polos banget.
Aku lepas boxerku tanpa babibu lalu berbaring lagi di atas kasur yang udah di alasin kain yang dibawa oleh pak Syarif.
"A, maaf banget yah. Apa saya boleh pake celana pendek mijetnya? Saya pake celana kain sampe agak kesemutan ini mijet di kasur lantai." Ia meminta ijin.
Padahal ini yang aku harapkan dari saat pertama ketemu dia di pintu depan tadi.
* * *
bat 🦇 retweeted
4:20 seconds experiment with WAN 3.0 premier(first time using WAN)
First 40 seconds is a different tool.
Title: The Man My Husband Love.
It’s a little AI-ish but for the price, it’s okay. Now I have to build a prompt skill for it to use it properly.
bat 🦇 retweeted
Woiiiii pegangin gue!!!!!! Bisa bisanya mainin alis gini apa gak pengen menyerahkan diri ini 😭🤏🏻
Pinang-gigilan ko butas ni @drunk_moreno17 at pinakain ko sa kanya yung malapot kong tam💦d
Full and uncensored video ⬇️
justfor.fans/werdboi9
justfor.fans/werdboi9
Telegram ⬇️
t.me/werdboi9
Poppers: @Pinoy_Poppers
Hindi ko alam na may pagnanasa pala pinsan ko sa akin. Sa sobrang libog, pinutok ko lahat sa loob ng butas nya yung 5 days kong ipon.
Full and uncensored video ⬇️
justfor.fans/werdboi9
Telegram ⬇️
t.me/werdboi9
Poppers: @Pinoy_Poppers



























