dibanding yang dimiliki pasukan bandit Donghak. Barisan pemanah ditempatkan jauh dari garis depan. Secara jumlah, tentara kerajaan mungkin kalah. Tapi persenjataan mereka jauh lebih efektif dan mematikan. Kedua belah pihak meyakini kemenangan pasukan masing-masing, terlepas dari
menyambut seruan pemimpin mereka dengan sorakan. Setelahnya, tanpa aba-aba apapun lagi, mereka menyerbu pasukan tentara kerajaan.
Hari itu, tanah Joseon basah oleh pertumpahan darah rakyatnya.
istana.
Nyatanya, kekosongan pertahanan yang ditampakkan pemerintah merupakan sebuah strategi untuk membuat para bandit lengah. Sekitar 500 meter dari gerbang istana, telah menanti barisan rapat tentara kerajaan dengan baju zirah, kuda, dan senjata yang jauh lebih tajam
gentar, namun yang ini berasal dari puluhan ribu petani yang berang. Gemanya jelas mampu menciutkan siapapun yang mendengar.
Lapisan demi lapisan pertahanan Hanyang berhasil ditaklukkan pasukan bandit Donghak. Entah mengapa, meski desas-desus serangan ini sudah tersebar ke
Keberhasilan pada dua aksi sebelumnya turut meningkatkan kepercayaan diri mereka bahwa rencana ini akan berhasil.
Seruan berbunyi, "Runtuhkan pemerintahan korup!" dan "Sejahterakan petani dan penduduk miskin" bergema di sepanjang jalan. Satu dua teriakan mungkin tak akan membuat
Sejumlah informasi mengenai penjagaan istana sudah mereka dapatkan lewat pengintaian dan interogasi beberapa tentara kerajaan yang berhasil mereka tangkap. Mereka juga berhasil mendapatkan beberapa senjata seperti yang digunakan pasukan kerajaan, meski jumlahnya tak banyak.
Joseon. Mereka percaya, apabila serangan mereka kali ini berhasil, hidup mereka akan jauh lebih sejahtera tanpa tindak sewenang-wenang pejabat daerah yang menginjak-injak kehidupan warga miskin.
Berbekal rencana cermat, mereka yakin mampu menembus pertahanan.
didengar para pejabat yang sibuk memperkaya diri sendiri.
Berbeda dengan aksi sebelumnya, di mana para bandit menargetkan rumah-rumah pejabat dan orang kaya, serangan kali ini memiliki skala yang jauh lebih besar. Tujuan mereka lebih ambisius; istana kerajaan, pusat pemerintahan
rapat dan menggenggam senjata sederhana; tombak dari bambu, garpu tanah, cangkul, hingga arit yang biasa mereka gunakan untuk bertani. Alat-alat yang membantu mereka bertahan hidup sehari-hari, kini menjelma alat perlawanan demi melantangkan suara yang selama ini tak pernah
Matahari baru mengintip sedikit dari balik awan ketika derap langkah puluhan ribu pasang kaki terdengar menggetarkan Hanyang. Jika pada aksi-aksi sebelumnya mereka terkesan serba rahasia, kini para bandit Donghak menampakkan diri dengan jelas. Masing-masing dari mereka berbaris
Di tengah pekat malam, sekelompok manusia berpakaian gelap lengkap dengan penutup wajah, bergerak sehening mungkin antara suara jangkrik yang bersahutan.
Dengan keberhasilan merampok kediaman Ryu Hwiseong dan Won Sorang, mereka lebih percaya diri ‘tuk menyambangi kediaman
bila tidak ingin ketahuan oleh si tuan rumah.
Salah satu bandit melihat tumpukan berkas yang masih tergeletak di atas meja, dokumen penting yang berkaitan dengan Nona Seo Hwa. Tanpa pikir panjang ia segera mengambil berkas tersebut.
Selepas berhasil mendapatkan apa yang mereka




