Halftime Culture retweeted
Replying to @halftimeculture
jika aturan tersebut berlaku umum, maka setiap pertanyaan yg akan dittanyakan di X, harus ditanyakan dulu ke 10 kawan 🙏🙏
Selain kritik terhadap ngucapin selamat pagi ke-10 mutualan.
Apakah nanya "makan siang kalian apa?" harus dikritik juga pah @rskuntowiyoga?
Halftime Culture retweeted
Meanwhile, kita orang sunda di Bogor mah udah biasa gue-elu sama aing-maneh sekaligus. Rek make gue-elu hayu, aing-maneh ge hayu wae😅
Bahasa Bogor: kata gue oge naon, lu ke sini weh atuh.
Urang oge orang Sunda. Tapi, ketika di kantor, ketemu customer atau supplier, maupun dalam interaksi informal di kafe dan tempat hiburan, urang otomatis menyesuaikan penggunaan pronomina persona pertama dengan konteks dan lawan bicara.
Lain karena merasa bahasa Sunda inferior, tetapi menurut urang ini bagian dari akomodasi linguistik.
Malah urang bangga pisan mun ngomong make bahasa Sunda jeung lawan bicara nu bisa bahasa Sunda oge di depan rekan-rekan nu ngomong "gue" "elu".
Pake “saya” atau “aku” di lingkup informal emang bisa juga, tetapi berdasarkan pengalaman urang, pilihan pronomina itu kadang justru menciptakan jarak sosial sehingga lawan bicara jadi segan. Ini murni pengalaman pribadi dan bukan generalisasi nyak.
Makanya, dalam konteks A Ibam, saya sih gak masalah beliau menggunakan “gue/lu”, selama sesuai dengan konteks dan lawan bicaranya.
Mun di podcast Simamaung make “gue/lu”, urang ge pasti getek pisan wkwkwk.
A Ibam ge kadang kaceplosan make “gue” 😂
Intinya, ini mah masalah penyesuaian bahasa yang dipakai dalam interaksi sosial aja.
Halftime Culture retweeted
Jadi inget awal2 masuk dunia proyek yang isinya mayoritas orang jawa, mereka ngomong aku-kamu ke gua yang tentu saja tidak biasa.. aku-kamu bagi gua mah cuma ke pacar gitu😅 jadi agak gimana gitu pas laki2 lain ngomong "kamu mau aku beliin makan sekalian ga tah mas?"😂😂😂 tapi ya, lama kelamaan adaptasi memang. Bener bahasa mah masalah penyesuaian aja
Urang oge orang Sunda. Tapi, ketika di kantor, ketemu customer atau supplier, maupun dalam interaksi informal di kafe dan tempat hiburan, urang otomatis menyesuaikan penggunaan pronomina persona pertama dengan konteks dan lawan bicara.
Lain karena merasa bahasa Sunda inferior, tetapi menurut urang ini bagian dari akomodasi linguistik.
Malah urang bangga pisan mun ngomong make bahasa Sunda jeung lawan bicara nu bisa bahasa Sunda oge di depan rekan-rekan nu ngomong "gue" "elu".
Pake “saya” atau “aku” di lingkup informal emang bisa juga, tetapi berdasarkan pengalaman urang, pilihan pronomina itu kadang justru menciptakan jarak sosial sehingga lawan bicara jadi segan. Ini murni pengalaman pribadi dan bukan generalisasi nyak.
Makanya, dalam konteks A Ibam, saya sih gak masalah beliau menggunakan “gue/lu”, selama sesuai dengan konteks dan lawan bicaranya.
Mun di podcast Simamaung make “gue/lu”, urang ge pasti getek pisan wkwkwk.
A Ibam ge kadang kaceplosan make “gue” 😂
Intinya, ini mah masalah penyesuaian bahasa yang dipakai dalam interaksi sosial aja.
Replying to @halftimeculture
jadi inget diri sendiri yg tanpa sadar udh terbiasa sama jaksel language duhh
Halftime Culture retweeted
pernah dalam beberapa komentar, ada non-mutual yg bilang kalo mutual saya galak-galak kalo lg belain saya di komen.
percayalah. kebanyakan mutual saya itu cunihin, gak galak 😂😂
dan, saya gak pernah order utk dibela. mungkin dinamika saja, dan ada perbedaan pendapat.
Halftime Culture retweeted
Percaya gak percaya, orang Sunda itu lebih fleksibel lidahnya, lebih cepet beradaptasi sama logat daerah lainnya.
2 minggu tinggal di Jakarta, udah fasih logat lu gue. Di Medan, udah fasih kau awak. Di timur, udah fasih sa ko.
Tapi dimanapun ketemu orang Sunda lagi, langsung reset pabrik.
Btw, jangan percaya logat-logat Sunda buatan sinetron, ftv, atau film. Getek anying ngadengena 😂😂😂
Urang oge orang Sunda. Tapi, ketika di kantor, ketemu customer atau supplier, maupun dalam interaksi informal di kafe dan tempat hiburan, urang otomatis menyesuaikan penggunaan pronomina persona pertama dengan konteks dan lawan bicara.
Lain karena merasa bahasa Sunda inferior, tetapi menurut urang ini bagian dari akomodasi linguistik.
Malah urang bangga pisan mun ngomong make bahasa Sunda jeung lawan bicara nu bisa bahasa Sunda oge di depan rekan-rekan nu ngomong "gue" "elu".
Pake “saya” atau “aku” di lingkup informal emang bisa juga, tetapi berdasarkan pengalaman urang, pilihan pronomina itu kadang justru menciptakan jarak sosial sehingga lawan bicara jadi segan. Ini murni pengalaman pribadi dan bukan generalisasi nyak.
Makanya, dalam konteks A Ibam, saya sih gak masalah beliau menggunakan “gue/lu”, selama sesuai dengan konteks dan lawan bicaranya.
Mun di podcast Simamaung make “gue/lu”, urang ge pasti getek pisan wkwkwk.
A Ibam ge kadang kaceplosan make “gue” 😂
Intinya, ini mah masalah penyesuaian bahasa yang dipakai dalam interaksi sosial aja.
Replying to @halftimeculture @ibamhariri
Ieu pisan sih, ketika pake 'saya' lawan bicara jadi segan, jadi asa aya jarak.
Saya gawe di jkt nyak, beberapa rekan emang orang bdg. Bodorna ketika ngerumpi bareng orang jkt n bdg, make bhs indonesia jeung baturan nu sunda malah awkward 😂 jadina campur2 we.
Halftime Culture retweeted
Replying to @halftimeculture
Lebih enak ngedenger urang sunda make gue/elu daripada pake aing tapi sembarangan. Hahaha.
Halftime Culture retweeted
Replying to @halftimeculture
Gak akan terlalu diini ini in tapi ilmu lagi aja nih
Halftime Culture retweeted
Ilmu lagi aja nih, makasi loh prof @halftimeculture
Urang oge orang Sunda. Tapi, ketika di kantor, ketemu customer atau supplier, maupun dalam interaksi informal di kafe dan tempat hiburan, urang otomatis menyesuaikan penggunaan pronomina persona pertama dengan konteks dan lawan bicara.
Lain karena merasa bahasa Sunda inferior, tetapi menurut urang ini bagian dari akomodasi linguistik.
Malah urang bangga pisan mun ngomong make bahasa Sunda jeung lawan bicara nu bisa bahasa Sunda oge di depan rekan-rekan nu ngomong "gue" "elu".
Pake “saya” atau “aku” di lingkup informal emang bisa juga, tetapi berdasarkan pengalaman urang, pilihan pronomina itu kadang justru menciptakan jarak sosial sehingga lawan bicara jadi segan. Ini murni pengalaman pribadi dan bukan generalisasi nyak.
Makanya, dalam konteks A Ibam, saya sih gak masalah beliau menggunakan “gue/lu”, selama sesuai dengan konteks dan lawan bicaranya.
Mun di podcast Simamaung make “gue/lu”, urang ge pasti getek pisan wkwkwk.
A Ibam ge kadang kaceplosan make “gue” 😂
Intinya, ini mah masalah penyesuaian bahasa yang dipakai dalam interaksi sosial aja.
Halftime Culture retweeted
Replying to @chennaiyinlad_
@halftimeculture pemain ke-12 untuk musuh gk tuh 🤣




















