henkuse (@henkuse) header
henkuse (@henkuse) profile picture
Joined March 2010
Photo by henkuse (@henkuse)Photo by henkuse (@henkuse)Photo by henkuse (@henkuse)Photo by henkuse (@henkuse)Photo by henkuse (@henkuse)Photo by henkuse (@henkuse)Photo by henkuse (@henkuse)Photo by henkuse (@henkuse)Photo by henkuse (@henkuse)Photo by henkuse (@henkuse)
Guys, ada usulan dari DPR yang menurut gue seharusnya jadi topik paling ramai dibicarakan hari ini tapi sayangnya tenggelam di antara semua berita geopolitik dan drama pengadaan. Wakil Ketua Komisi IX DPR Charles Honoris mengusulkan: negara tanggung 100 persen iuran BPJS Kesehatan seluruh rakyat Indonesia. Dan hitungannya sudah dia paparkan langsung di rapat dengan Kementerian Kesehatan. Angkanya dulu: 225,94 juta orang peserta di luar kategori Pekerja Penerima Upah. Dikali iuran Rp42.000 per bulan. Dikali 12 bulan. Hasilnya: Rp113 triliun per tahun. Dan Charles langsung melempar pertanyaan yang menurut gue paling tepat sasaran: Mampu enggak negara? Mampu Pak. Membiayai program lain yang jauh lebih besar saja mampu. Dan ini yang paling pedas dari seluruh pernyataan Charles: Program lain malah dipakai buat motor trail, Pak. Ini buat kesehatan rakyat, Pak. Satu kalimat. Tapi isinya sangat berat. Karena kita semua tahu angka-angkanya: MBG: Rp171 triliun per tahun. Dengan 8 potensi korupsi yang sudah diidentifikasi KPK. Dengan pengadaan sikat semir sepatu Rp1,6 miliar. Dengan motor listrik Rp1,2 triliun. Dengan kaos kaki Rp100.000 per pasang. BPJS Kesehatan 100 persen untuk seluruh rakyat: Rp113 triliun per tahun. Dengan manfaat yang langsung terasa setiap orang yang sakit bisa berobat tanpa takut tidak bisa bayar. Selisihnya bahkan lebih murah. Dan dampaknya jauh lebih terukur. Masalah yang mendorong usulan ini dan ini realita yang menyakitkan: Sistem BPJS sekarang punya lubang besar yang sudah lama diketahui tapi tidak kunjung diselesaikan: data kepesertaan yang kacau. Ada ratusan ribu bahkan jutaan warga miskin yang secara data masuk kategori mampu karena kesalahan pendataan. Mereka masuk desil 8 atau lebih tinggi di atas kertas. Tapi di lapangan mereka tidak sanggup bayar iuran bulanan. Charles mencontohkan seorang ibu di Jakarta suaminya kerja serabutan, penghasilan tidak menentu. Tapi karena data administrasinya salah dia tidak masuk kategori penerima bantuan. Harus bayar BPJS mandiri. Sementara hidup di Jakarta dengan Rp2 juta sebulan saja sudah susah. Dan ketika mereka tidak bayar kepesertaannya nonaktif. Mereka jatuh sakit tidak bisa berobat dengan BPJS. Harus bayar penuh. Ini adalah ironi terbesar dari sistem yang seharusnya melindungi rakyat yang paling rentan. Kenapa solusi verifikasi data" tidak cukup: Pemerintah selalu menjawab masalah ini dengan satu jawaban: kita akan perbaiki data Tapi perdebatan soal verifikasi data sudah berlangsung bertahun-tahun. Sementara itu setiap hari ada orang yang sakit dan tidak bisa berobat karena terjebak di limbo administratif antara "mampu" di atas kertas dan "tidak mampu" di lapangan. Charles menyebut ini dengan sangat tepat: perdebatan verifikasi data yang tidak kunjung selesai hanya memperpanjang ketidakpastian bagi warga yang paling butuh kepastian. Solusi paling simpel: tanggung semuanya. Selesai. Tidak perlu verifikasi. Tidak perlu data yang sempurna. Semua warga negara Indonesia dapat BPJS gratis. Apakah ini fiskal realistis? Rp113 triliun per tahun terdengar besar. Tapi mari bandingkan: MBG 2026: Rp171 triliun dalam satu tahun, dengan tata kelola yang menurut KPK sendiri belum memadai. Kalau dari anggaran-anggaran itu ada yang bisa dirasionalisasi Rp113 triliun untuk BPJS gratis 100 persen bukan angka yang tidak mungkin dijangkau. Dan ini investasi yang paling langsung dampaknya ke rakyat terbawah yang sekarang tidak punya jaring pengaman kesehatan yang efektif. Yang paling bikin gue geleng-geleng: Ini bukan ide baru. Konsep universal health coverage sudah lama dibicarakan. Negara-negara yang jauh lebih miskin dari Indonesia sudah menjalankannya. Thailand menjalankan sistem kesehatan universal sejak 2002 dengan premi nol untuk semua warga. Sri Lanka. Bangladesh. Bahkan beberapa negara Afrika. Indonesia dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara masih berdebat soal siapa yang berhak dapat BPJS subsidi dan siapa yang tidak. Sementara di sisi lain anggaran negara mengalir ke motor trail, kaos kaki Rp100.000, dan sikat semir sepatu dengan harga tiga kali lipat pasar. Rp113 triliun untuk kesehatan gratis semua rakyat Indonesia atau Rp171 triliun untuk program makan yang menurut survei 88% manfaatnya dinikmati pejabat dan pengelola dapur? Ini bukan pertanyaan yang sulit dijawab secara moral. Yang sulit adalah menjawabnya secara politik karena selalu ada kepentingan yang lebih besar dari kesehatan rakyat yang masuk dalam kalkulasi anggaran negara. Charles sudah berani mengajukan pertanyaan yang tepat. Sekarang tinggal satu pertanyaan lagi: Adakah yang berani menjawabnya dengan aksi nyata?
90
769
46
1,355
63,113
This is something that most people outside China have never heard of: in China they have this phone number - 12345 - which you can dial wherever you are in the country if you have a query or a complaint that the local government can answer or solve. They have a legal obligation to treat your case and solve it. In 2023 for instance they processed 20 million cases with a 95.5% case resolution rate (beijing.gov.cn/hudong/jpzt/2…). The most common complaints cover a wide range of daily life issues: so-called "market management" (stuff like online commerce disputes) topped the list with 3.66 million cases, followed by educational institution issues with 1.73 million cases (mostly about refunds from educational institutions), and housing issues with 1.27 million cases (covering everything from neighborhood facilities to home repairs). I used it several times myself. Once was when schools were closed in Shanghai in early 2020 due to Covid, because our daughter's kindergarten didn't want to reimburse tuition fees despite a government mandate. We were directed to the Shanghai's Education Commission who took the complaint seriously and tried to arbitrate a solution between us and the school. That's the way it works: 12345 directs you to the right government officials and follows up to make sure they treat your case. In the end we didn't get reimbursed because it was an International School over which Shanghai education authorities have apparently no legal enforcement power, contrary to Chinese schools. But it wasn't for lack of trying! By the way, it puts in perspective the notion that foreign entities are somehow badly treated in China: in that instance international schools had much more leeway and freedom than Chinese schools! We also use 12345 extensively when we were travelling in China during Covid. Since Covid policies tended to be highly localized in China, we called ahead the local 12345 of all the destinations we'd cover during our trip to understand the local Covid lay of the land. They were obligated to answer our questions and give us an accurate description of the policies in place locally. It's almost like free legal advice, you can ask them about any law or policy that applies anywhere in China. To my knowledge, this 12345 number is very unique. In France if I had a complaint the government could solve, like a school deliberately not complying with policy, I simply wouldn't know where to start. And I know any issue would take months or years to be solved, if at all... In China 12345 is crazy fast. Whatever the issue, you reach a conclusion - one way or the other - in hours, or days at the most. Same thing with enquiries related to policies or legislation. In the West "no one is supposed to ignore the law" but where do you go to learn it? You typically need to pay a lawyer or read obscure texts of law directly yourself, that no mere mortal can ever hope to understand. In China you call 12345 and you get a customized answer to your case directly from a relevant government official. Infinitely easier, and free! And incidentally, it also helps the government improve in real time at a very granular level: if they start to get many phone calls about a particular issue, they're made aware of it and solve it. This is a concrete example of a level of accountability by the government to the people that is simply non-existent in the West. Really makes you reflect on systems of governance and whether Western liberal democracies have become too performative - around abstract values - as opposed to practical.
unavailable
93
791
105
3,026
234,784