ela ela retweeted
Satu hal lagi yang menurutku perlu disoroti adalah respons terhadap teman-teman, khususnya maba, yang menyampaikan kritik terhadap kinerja BEM ITS. Banyak yang justru mendapat respons seperti "kok berani sih?" atau "behave, masih maba". Jujur, aku kurang paham dengan pola pikir seperti ini. Memangnya kenapa kalau masih maba? Apakah hak untuk berpendapat baru berlaku setelah seseorang menjadi mahasiswa tingkat atas/warga? Menurutku, status sebagai mahasiswa baru bukan berarti kita harus kehilangan hak untuk bersikap kritis. Kita memang masih dalam proses mengenal lingkungan kampus, tetapi bukan berarti kita harus menutup mata terhadap hal-hal yang menurut kita perlu dievaluasi. Kritik juga nggak harus menunggu sampai kita punya jabatan, pengalaman organisasi bertahun-tahun, atau sudah menjadi warga.
BEM bukan organisasi yang posisinya berada di atas mahasiswa. BEM ada karena mahasiswa, membawa nama mahasiswa, dan seharusnya bekerja untuk kepentingan mahasiswa. Jadi, sudah sewajarnya kalau mahasiswa punya hak untuk mempertanyakan kinerjanya. Kalau kritik dari mahasiswa sendiri justru dianggap sebagai sesuatu yang nggak pantas, lalu sebenarnya BEM ingin menjadi wadah aspirasi atau hanya ingin didukung tanpa pernah dipertanyakan? Menurutku, kita masuk ITS bukan berarti harus selalu setuju dengan segala sesuatu yang terjadi di dalamnya. Kita boleh bangga menjadi bagian dari ITS, tetapi kebanggaan itu nggak seharusnya membuat kita berhenti berpikir kritis.
ela ela retweeted
real academic pressure is when your parents don’t pressure you at all.. they just trust you, and somehow that makes you feel like you can’t fail
ela ela retweeted
this is what our reality looks like. sementara sebagian orang masih bilang semuanya baik-baik saja. mungkin karena kalian masih bisa melihat langit biru, kalian lupa bahwa kami di sini bahkan kehilangan itu.
















