Ada orang yang kalau salah, nggak pernah benar-benar bilang "iya, itu salahku." Ceritanya diputar pelan-pelan. Bagian yang bikin dia kelihatan buruk dihilangkan, bagian yang bikin dia kelihatan terluka dibesar-besarkan. Ujung-ujungnya, dia yang tampil sebagai korban.
Coba hitung berapa banyak orang di sekitarmu yang kelihatannya baik-baik saja, tapi diam-diam nggak pernah benar-benar tenang. Punya pekerjaan bagus, rumah nyaman, hidup kelihatan lengkap, tapi kepalanya terus berisik. Malam hari susah tidur, pagi hari bangun dengan pikiran yang sudah penuh sebelum hari dimulai.
Itu sebabnya ketenangan terasa mahal. Bukan soal uang, tapi karena harganya sering berupa hal-hal yang nggak mudah dilepas. Kita harus rela menjauh dari orang yang bikin lelah, melepas ambisi yang terus mengejar-ngejar, belajar bilang "cukup", dan berdamai dengan hal-hal yang nggak bisa kita ubah. Banyak orang belum siap membayar harga itu, jadi mereka terus berlari, berharap tenang akan ketemu di ujung jalan.
Padahal tenang itu jarang ada di ujung jalan. Ia tumbuh dari keputusan-keputusan kecil. Nggak membalas semua omongan, nggak ikut campur semua urusan, nggak memaksakan diri jadi segalanya buat semua orang. Pelan-pelan, hati jadi lebih lapang tanpa kita sadari.
Dan kalau hari ini kamu sudah punya sedikit ketenangan, entah itu rasa cukup, hati yang nggak lagi gampang goyah, atau malam yang bisa dilewati dengan tidur nyenyak, jaga baik-baik. Itu bukan hal sepele. Itu sesuatu yang diam-diam sedang dicari banyak orang, dan nggak semua orang beruntung memilikinya.
Coba hitung berapa banyak orang di sekitarmu yang kelihatannya baik-baik saja, tapi diam-diam nggak pernah benar-benar tenang. Punya pekerjaan bagus, rumah nyaman, hidup kelihatan lengkap, tapi kepalanya terus berisik. Malam hari susah tidur, pagi hari bangun dengan pikiran yang sudah penuh sebelum hari dimulai.
Itu sebabnya ketenangan terasa mahal. Bukan soal uang, tapi karena harganya sering berupa hal-hal yang nggak mudah dilepas. Kita harus rela menjauh dari orang yang bikin lelah, melepas ambisi yang terus mengejar-ngejar, belajar bilang "cukup", dan berdamai dengan hal-hal yang nggak bisa kita ubah. Banyak orang belum siap membayar harga itu, jadi mereka terus berlari, berharap tenang akan ketemu di ujung jalan.
Padahal tenang itu jarang ada di ujung jalan. Ia tumbuh dari keputusan-keputusan kecil. Nggak membalas semua omongan, nggak ikut campur semua urusan, nggak memaksakan diri jadi segalanya buat semua orang. Pelan-pelan, hati jadi lebih lapang tanpa kita sadari.
Dan kalau hari ini kamu sudah punya sedikit ketenangan, entah itu rasa cukup, hati yang nggak lagi gampang goyah, atau malam yang bisa dilewati dengan tidur nyenyak, jaga baik-baik. Itu bukan hal sepele. Itu sesuatu yang diam-diam sedang dicari banyak orang, dan nggak semua orang beruntung memilikinya.
What normal person would even think to stick a glass in their mouth until it gets stuck like this? My advice is to stop doing stupid things that could end up hurting yourself faggot
Maybe you haven’t gotten everything you hoped for yet. Maybe there are still a lot of things that make you feel behind. But honestly, you’ve already come so damn far. Give yourself some credit. Now get back up and keep going with this boring ass life of ours LOL
jemma retweeted
La desgarradora historia de Tahlequah (J35), la madre orca que cargó a su cría fallecida por 17 días y más de 1.600 km en el Pacífico Norte. Cuando se agotaba, su manada la ayudaba a empujar el cuerpo.
Los biólogos lo tienen claro: no fue instinto, fue duelo.
jemma retweeted
お昼寝からむくっと起きて、おしっこをしにおトイレに向かうおじいわん。えらい!
このあと結局おしっこせずに出てきて、リビングのマットでしちゃったけど、おトイレに行こうと思った気持ちだけで はなまるだよ💮
えらいよおじいわん!
jemma retweeted
Bir kadının, evcil tavuğunun devasa yumurtasını kırdığında, 25 milyonda bir rastlanan bir sürprizle karşılaştı.




















