She was barely covered, wearing a blush-pink lingerie set with sheer lace thigh-highs and delicate garters wrapped around her thighs.
Averting his gaze back toward the heavy curtain hiding his friend from view, he swirled his glass and called out to the changing cubicle.
“I’m used to trouble,” Lennon murmured, his tone dry and smooth. “What kind are we talking this time, then @velourenvie?”
★ 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗗𝗜𝗞𝗘𝗡𝗔𝗡𝗚: 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗦𝗨𝗞𝗜 𝗗𝗔𝗡 𝗦𝗘𝗠𝗨𝗔 𝗖𝗘𝗥𝗜𝗧𝗔𝗡𝗬𝗔
Ke pasar malam membeli terasi,
Pulangnya mampir membeli kemangi.
Desa Sukasuki penuh memori,
Kita berpisah dulu ya tapi jangan lupakan cerita kita di sini semua!
@DirectoreCut as mang Cakra sopir
@darknocturnes as om Surya sayur
@theunveiling as Dadang kenek
@Prestigour as Malik kang foto
@semringah as Gatot mancing
@belleverose as Arunika celeng
@singularity_ix as Karisma utang
@derniernocturne as Jamal mekanik
@drystoupia as Sumiarti sapu
@heningnyariuh as Pangeran setan
@binarkirah as Effan lele
@Dearliesins as Niken jamu
@tautsenja as Bu Titik Hongkong
@lenndrew as Kancil warnet
Makasih wardesku!
♱ WKWKWKWKWKWKWKWKWKWK.
Replying to @semringah
Terus, di sini dia sekarang; di dalam rumah hantu pasar malam desa sukasuki, lengkap dengan atribut hantu-hantuan seadanya.
Maklum, namanya juga ala kadarnya, jadi penyamarannya pun mengikuti yang disediakan aja. Entah pengunjung takut atau nggak itu urusan belakangan, yang penting dapet upah.
LENNON D. MERCER retweeted
Terus, di sini dia sekarang; di dalam rumah hantu pasar malam desa sukasuki, lengkap dengan atribut hantu-hantuan seadanya.
Maklum, namanya juga ala kadarnya, jadi penyamarannya pun mengikuti yang disediakan aja. Entah pengunjung takut atau nggak itu urusan belakangan, yang penting dapet upah.
Padahal, sesungguhnya daun telinga lebar yang mencuat keluar itu lebih sibuk mendengar suara horor dari speaker gembreng butut milik tim 𝘂𝗸𝗮-𝘂𝗸𝗮. Tim rumah hantu yang terkenal seantero donlike. Ujung matanya menangkap pakdhe Cakra yang mondar-mandir mirip setrikaan emak.









