Jujur, vidio ini sangat menggelitik saya, bahkan sampai saya ulang berkali kali dengan menempatkan perhatian orang berbaju putih (dilingkari merah) yang kemudian memantik forum untuk bersholawat.
Setelah saya melakukan pengamatan, dengan metode ngezoom-ngezoom beberapa kali, sa mendapatkan beberapa hal unik :
>baju putih adalah orang yang tidak berbicara hingga dirinya bersholawat
>di saat yang lain gusar dan pada berdiri, dia tetap stay cool, Roy Suryo juga duduk sih, tapi dia tetap selalu ngomong "ini yang menerangkan orang Yamaguchi" sampai beberapa kali
>baju putih hanya memantau sekitar
>baju putih mencoba mendekatkan mic ke mulut untuk berbicara sebanyak dua kali, gerakan pertama mendekatkan mic pada detik 34 dan kedua 39
>setelah ia mantap untuk bersholawat pada percobaan ketiga di detik sekitar 43.
Kesimpulannya, baju putih + menggunakan peci yang memantik sholawat adalah orang yang pandai memantau situasi dan stay cool
Buat kalian yang sedang suntuk, kesal demgan kehidupan, dan hal tidak menarik lain dalam hidup, saran saya sempatkan menonton vidio ini setidaknya sekali
Sebab sangat disayangkan untuk dilewatkan, entah kenapa rasanya selalu tergelitik
Mengapa Tan Malaka digandrungi oleh Generasi sekarang (khususnya Gen Z), hingga efeknya adalah Gen Z yang ogah berpartai dan struktur yang kaku.
Oiya, Tan Malaka itu dieksekusi oleh rezim Soekarno-Hatta, yaa, kawan.
📹: Youtube Mojok
Sampaikanlah walau satu jurnal #6
Di artikel ilmiah ini bilang bahwa gaji rendah di Universitas Ethiopia berdampak pada efisien pengajaran dan kualitas riset. Indonesia saat ini menduduki posisi paling buncit dalam penghasilan dosen di Asia Tenggara, based on data Tempo.
Apakah berefek serupa? Tentu tidak, sebab dosen di Indonesia tidak pakai dollar, pengajar adalah malaikat kecil, dan tentunya emangnya penting menjadikan gaji dosen dan guru tinggi? Gak lah, buang buang anggaran.
Mendingan buat makan makan gratis tiap pagi, semua kenyang semua senang. Asoyyyy
This quoted post is unavailable.
Sampaikanlah walau satu Jurnal #3
Kalian suka ngopi? berapa banyak? dan kapan aja ngopinya?
Selama ini adakah dari kalian yang mengira bahwa manfaat kopi ditentukan oleh seberapa banyak kopi yang kita minum? Padahal, sebuah studi besar terhadap lebih dari 40 ribu orang dewasa di Amerika menemukan sesuatu yang jauh lebih menarik, waktu minum kopi ternyata bisa lebih penting daripada jumlah minumnya dalam sehari.
Penelitian yang dipublikasikan di European Heart Journal (Scopus Q1) itu menemukan bahwa orang yang minum kopi terutama di pagi hari memiliki risiko kematian dan penyakit jantung yang lebih rendah dibanding mereka yang minum kopi sepanjang hari hingga malam.
hasil analisis mendalam dari Xuan Wang dkk. (Tulane University + Harvard T.H. Chan School of Public Health) yang bener-bener bedah pola waktu minum kopi. Bukan cuma soal berapa cangkir, tapi kapan diminumnya. Ini POV ringkasan saya dari artikelnya:
📑Peneliti pakai data NHANES 1999–2018 (plus validasi eksternal dari studi lain) lalu pakai cluster analysis. Hasilnya nemu dua pola jelas: morning-type (36% peserta) dan all-day-type (14% peserta). Sisanya non-peminum kopi.
📑Setelah di-adjust umur, gaya hidup, jumlah kopi berkafein & tanpa kafein, durasi tidur, dan puluhan faktor lain, morning-type punya risiko kematian total paling rendah (HR 0.84) dan risiko kematian jantung paling rendah (HR 0.69). All-day-type? Hampir sama dengan yang nggak minum kopi.
📑Ada interaksi keren: Semakin banyak kopi yang diminum di pola pagi, semakin besar manfaatnya (bahkan >3 cangkir/hari tetap protektif). Tapi di pola sepanjang hari, tambah banyak kopi nggak nambah manfaat apa-apa.
📑Mekanismenya? Kopi pagi lebih selaras sama ritme sirkadian tubuh. Minum sore/malam bisa ganggu produksi melatonin malam hari, sementara efek anti-inflamasi kopi paling optimal kalau diminum pagi (saat kadar inflamasi alami tubuh lagi tinggi).
Intinya: Butuh studi observasional besar + follow-up hampir 10 tahun buat buktiin bahwa minum kopi pagi punya efek kesehatan yang jauh lebih kuat daripada minum kopi nyebar sepanjang hari.
NOTE : Meski penelitian ini belum bisa membuktikan hubungan sebab-akibat secara mutlak, hasilnya tetap menarik. Sebab, setelah dikoreksi dengan banyak faktor seperti rokok, olahraga, pola makan, hingga tidur, manfaat kopi pagi tetap konsisten muncul. Artinya, ada kemungkinan tubuh manusia memang bekerja lebih selaras dengan ritme waktu daripada yang selama ini kita kira.
Jadi dalam episode ini, Radit Ngobrol sama Eja Saputra (finalis suci 12). Ngobrolnya juga aslinya udah janjian jauh hari (aslinya, tapi ga sengaja), makanya judulnya "Merpati tidak pernah ingkar janji", jadi ceritanya waktu itu di show dua, Radit berikan komentar after perform si Eja, dia bilang bahwa kalau misalkan Eja berhasil masuk grand final, dia akan reviu nasi goreng milik Si Eja. Dan terrnyata kejadian.
Tapi, yang bikin gagal fokus bukan sesimple reviu nasi goreng, tapi bagaimana Eja switch karir dari Mas-Mas SCBD (Copywriter) - Usaha Nasi Goreng - Stand Up Comedy. Semuanya "seperti ada jalannya" ntah apa amalan orang ini.
Sebelum cerita jauh mengenai si Eja, ada cerita unik dari Si Radit, bahwa dia pernah punya memori kelam di Pasaraya, Radit pernah dipalak sama anak SMP yang pada waktu itu dia sudah SMA pakai seragam pula antara Radit dan si Pemalak, tapi untungnya dia berhasil kabur, dah itu aja, oke lanjut ceritain si Eja
Eja ini lulusan fakultas Administrasi Bisnis, Universitas Brawijiaya, jauh dari kata copywriter. Sejak kuliah, dia udah bareng pacarnya punya usaha flannel di Malang, waktu itu belum tren katanya. Asal muasal bisnis flanel juga dilatari dari kebijakan UB yang mewajibkan pakai kaos berkerah. Sedangkan pacar Eja, dia bilang di podcast itu jago branding dan martketing. Jadi Pacarnya urusin penjualan, Eja bagian eksekusi produksi.
Saat kuliah dia juga mengaku terbrainwash, bukan sama kelompok fasis kiri, tapi sama buku "Saya Pengen Jadi Creative Director" karya Budiman Hakim (gambar terlampir), sejak baca buku itu dia menjadi punya bekal menjadi copywriter, selain terbrainwash sama buku, dia juga dicuci sama seminar-seminar tentang enterpreneur seelama kuliah, makanya dia berpikiran bahwa harus bisa menjadi usaha atau enterpreneur.
Sesudah lulus kuliah, dengan bekal baca buku itu, Eja akhirnya kerja di bagian copywriter selama sembilan tahun, kantor terakhir sebelum resign katanya menjadi bagian dari mas mas kalcer SCBD dengan lanyardnya (syarat kalcer punya lanyard).
Dengan Si Eja yang sering ikut seminar-seminar enterprenuer dia akhirnya memutuskan untuk resign dan mendirikan usahanya sendiri, sebelum memutuskan untuk total di usahanya, dia minta ijin istri selama setahun untuk mencoba peruntungan di bisnis, dan ternyata 3-6 bulan trialnya, dia berhasil.
Berdirilah Nasi Goreng Padang Sigadang, kenapa nasi goreng? lagi lagi karena memori saat kuliah sama pacarnya yang sering jajan nasgor, nah kemudian ditopang dengan nyokapnya yang hobi ngulik resep.
Tapi, namanya usaha tak pernah berjalan mulus, beberapa waktu berjalan, usahanya kebakaran akibat konsleting listrik, ini juga jadi salah satu materi stand up dia (terlampir juga vidionya).
Saat dia memulai bisnis Nasgornya, Si Eja juga sudah mulai menekuni dunia standup, kalau sekadar mengikuti dia sudah sedari 2011, dia menekuni juga alasannya simple, karena dia pengangguran, banyak waktu. Singkat cerita dia akhirnya gabung ke StandUp Indo Tangsel, berawal dari pujian Rizky Ambon yang waktu itu dah jadi abang-abangan, uniknya Rizky Ambon juga menjadi peserta SUCI 12 bareng Eja, tapi dia closemic duluan di enam besar.
Selama menekuni Standup, progress Eja juga terlihat nyata, dan lagi lagi, "kebetulan dan pas momennya" yang membawanya sampai jauh :
📑Dia berhasil jadi lineup Jambore Standup karena bareng sama Ajis(presiden StanUp Indo) waktu itu yang ga sengaja barengan sama dia setelah nonton spesial shownya Radit, awalnya Bang Ajis juga lupa nunjuk dia, tapi waktu itu ketemu lagi saat Eja jadi roadman Nuri yang waktu itu jadi opener Radit. dari roadman ke grandfinal SUCI 12, edyan!
📑Jadi lineup Standup Fest
📑Jadi opener Mal Jupri
📑Juara standup indo Tangsel setelah dua season, di season pertama dia lima besar, selanjutnya dia juara
📑Juara Somasi yang diadakan oleh Dedi Corbuzier
nah pencapaian pencapaian itu yang mengantarkan Eja sampai saat ini, benar benar proses yang dilaluinya tidak mudah dan bertahap, selamat Eja.
Jika ini dilakukan rutin sebulan sekali, dan dengan nominal yang sama.
Dalam satu tahun anggaran Laundry ini bisa membuat 3 sarjana dengan nominal ukt 10 juta, dan itu masih sisa.
Padahal media mainstream saja sudah penuh dengan oligarki, dan sarat kepentingan kental di sana. Coba saja, sekarang TV nasional mana yang menayangkan investigasi? apalagi media homeless yang notabene untuk melawan narasi itu justru bergabung dengan mereka.
Fungsi watchdog pada media mainstream sudah kabur, ditambah seperti ini?
Tak ayal jika demokrasi negara ini kian merosot. Yaa, kan, Prof @saiful_mujani ?🤔
Ada yang minat jadi reseller beton? Dijamin tangan pertama.
Kalau ada, bisa hubungi beliau yang bersangkutan. Dijamin tidak mengecewakan, sebab, banyak beton pembangunan strategis nasional disuplai olehnya.
Terakhir kali Arsenal mentas di puncak tertinggi Eropa adalah saat Dollar Amerika di level Rp 9.224,65, yap 20 tahun lalu. 17 mei 2006, kala itu mereka harus tumbang melawan Barcelona, meskipun Campbell nyekor duluan, namun Barcelona berhasil balikkan keadaan dengan Gol Eto'o serta Balleti.
Kini, mereka mentas di final lagi saat keadaan Rupiah di ujung nadir berhadapan dengan USD, versi terlemah, Rp 17.399,55.
Setelah badai Maret - April yang menyebabkan mereka kehilangan dua trofi, kini mereka di atas angin dengan menatap Final Liga Champions serta di pucuk Liga Inggris dengan selisih lima poin meski City simpan 1 laga lagi.
Selamat, Arsenal, @IDGoonerscom, @NajwaShihab, serta fans Arsenal lain yang turut serta merayakan👌
Saya pengen jadi gado gado, tanpa alasan, beneran laki. Daripada kemarin mau pulang ke Solo sebagai rakyat biasa tapi ga biasa biasa juga😅
Jikalau kalian senggang nonton deh podcast mereka, fun juga oke, ilmu juga tak kalah.
dr Tirta X Radit = raja podcast kontemporer😎
"Kan biasanya kalau udah dihukum, eh bukan dihukum. (Maksudnya) sit up, push up, itu disiplin kan, itu latian itu sebetulnya, latian disiplin itu, latian cinta ke negaranya"
Bagaimana bisa logikanya dengan "disiplin" seperti itu malah menambah rasa nasionalisme?
Alih-alih dengan sit up, push up, apakah tidak lebih bagus memberikan mereka kejelasan karir setelah pulang ke Indonesia?
Itu justru rasa nasionalisme tumbuh.
"Sosial penting tapi jangan kebanyakan"
Padahal penyeimbang demokrasi negara ini mostly lahir dari rumpun sosial, termasuk yang sedang dikriminalisasi saat ini, uda Feri dan Prof Saipul Mujani. Jika sosial coba dijinakkan, yaa imbasnyaa negara ini akan semakin nyaman.
Idses retweeted
“apapun yang lu lakuin dalam bentuk konten, jangan pernah mikirin dua hal dulu yaitu popularitas sama duit.”
ini harusnya bisa diterapin disini juga ga sih?
banyak banget user cenblu yang langsung drop begitu gak viral atau ga kebagian revenue sharing. apalagi akhir akhir ini banyak yang kena 🐳. dan itu makin bikin kita males ngonten wkwk
tapi, coba kita liat dari sisi lain.
kalo lu dari awal sudah mikirin “ini bakal viral gak ya?” atau “ini bisa cuan gak?”, kontennya pasti kerasa hampa. apalagi konten yang cuman nanya nanya kek wartawan, atau klik bait ngeselin. sekali 2kali masih maklum tapi 3x4 sama dengan 12.
audience sekarang makin pinter.
warga sini bisa ngerasain mana konten yang dibuat dengan hati, mana yang cuma klik bait biar keliatan rame sekilas.
buat yang lagi struggle di konten:
1. Tetep konsisten
2. Jaga integritas
3. Belajar algoritma pelan-pelan
4. Jujur
5. Nikmati prosesnya
karena yang bikin orang betah bukan cuma kontennya, tapi juga orang di balik kontennya.
sekarang tanya ke diri sendiri:
“kalau besok impresi minus dan sharing revenue ga tembus, apa gue masih mau lanjutin cenblu ini?”
kalo jawabannya “masih”, berarti lu udah di jalur yang benar.
kalo “nggak”, mungkin udah saatnya evaluasi.
cc: @direktoridosen @dospeng @iPoopBased @FandomID_
Andik Vermansah : Dari ditekel David Beckham hingga kini jadi suksesor Garudayaksa mentas di Kasta Tertinggi
Salah satu punggawa Garudayaksa, Andik Vermansah, adalah pesepakbola yang sudah malang melintang di persepakbolaan tanah air, bahkan sampai negeri Jiran, Malaysia.
Pria kelahiran Jember tersebut sebelum membela Garudayaksa juga membela klub liga dua lainnya, Persiraja Banda Aceh, selama kurang lebih dua tahun. Saat ini usianya kurang lebih adalah 35 tahun, termasuk apik bagi pesepakbola tanah air di umur yang terbilang tidak muda lagi, namun, masih bisa membawa Timnya promosi ke kasta tertinggi Indonesia.
Karir keemasan Andik saat membela Persebaya Surabaya (2008-2013) dan Selangor (2014-2017), saat di Persebaya dirinya berhasil menjuarai Liga Primer Indonesia, dan di Selangor dirinya berhasil menyabet Malaysia Cup.
Pada keemasanya tsb dirinya menjadi langganan Timnas, di kelompok umur Andik berhasil membawa medali perak dua kali (2011&2013) sedangkan pada Timnas Senior juga menjadi senarai runner up Timnas pada gelaran AFF tahun 2016.
Di tahun 2011 menjadi tahun yang bersejarah bagi Andik, saat itu dirinya berhasil lolos seleksi Indonesia Selection yang akan menjamu LA Galaxy, klub David Beckham saat itu, untuk laga persahabatan.
Saat laga itu Andik tersorot menjadi bintang lapangan Indonesia selection, beberapa kali melewati pemain lawan tak terkecuali Beckham dengan dribling indahnya.
Bahkan, Andik sampai ditekel oleh Beckham karena skill lincahnya, tekel tersebut juga terlihat dengan sengaja dan membuat legenda Timnas Inggris tsb meraih kartu kuning.
Pasca laga, seperti menjadi rejeki nomplok bagi Andik, jika yang lain menginginkan bertukar kaos dengan Beckham, nasib Andik sebaliknya. Justru Beckham yang menginginkan jersey Andik.
"Saya merasa tidak enak atas pelanggaran yang cukup kasar tadi. Dia adalah pemain yang berbakat. Saya yang menginginkan kausnya." Penjelasan Beckham di jumpa pers pasca laga.
Kalau kalian momen apa yang bikin teringat dengan Andik Vermansah?
Cc : @kamar_agung @TimnasXtra @Officialkjti @IndosFC @SiaranBolaLive @strootsys @idextratime @wunderkid_id @gilabola_ina
nitter.gq/i/status/2051312178972…
Nah ini dia, ternyata switch karirnya pernah ekstrem juga, dari pemain bola hingga menjadi RI 1.
Replying to @mencobavalid @unmagnetism @MafiaWasit @bahaspemainbola @direktoridosen @garistengah_id @narasibola @ruangbola_ @FandomID_ @iIhamzada @txtttgbola
Jangan lupakan juga, dia pernah jadi Presiden Republik Indonesia, ahh rindu juga sama gaya kepemimpinannya ya
Tapi jika menjustifikasi akun akun gede tanpa riset dan lain sebagainya itu juga kurenk menurut saya.
Coba sekarang sebutkan akun gede yang hanya dibangun singkat? Masing masing mereka yang sudah menjadi "gede" butuh waktu tahunan, bahkan bisa saja puluhan tahun untuk bisa sekarang ini. Menurutku yaa fair saja, itu dari buah mereka tekun di aplikasi ini saat dulu belum mengenal payout.
Tugas kita? Yaa hanya berjalan saja, ngonten atau nulis seperti yang anda sebutkan itu, aplikasi ini kapitalis saya juga yakini itu, tapi jika payout segampang itu, yaa bisa gulung tikar aplikasi ini.
Akun follower di bawah 10k susah dapet payout, artinya dia harus langganan beberapa bulan dulu baru bisa payout.
Gak banyak yang punya dana segitu dan sabar nunggu apalagi algo terus berubah-ubah.
Ibarat investor mau invest di suatu negara, tapi negaranya dikelola serampangan, gak menjamin keamanan, suka ngebanned investor, gak transparan dan ribet sistem birokrasinya (kek kenal negara mana ini).
Awal bulan ini ratusan mutual cenblu saya menghilang. Mungkin berubah jadi akun biasa, mungkin kena paus lalu malas mengurus atau mungkin pindah ke thread.
Kejadian seperti ini mungkin akan terjadi setiap akhir bulan. Banyak yang tidak lanjut langganan karena hasilnya tidak prospek jika diukur dari usaha, modal, dan kepastiannya.
Yang bertahan hanyalah akun-akun besar yang game-nya bukan lagi soal payout atau tidak tapi berapa banyak.
Mereka mengumpulkan impresi 1-2jt perhari cukup mudah tanpa perlu riset, menulis panjang, jbjb brutal, atau membuat keributan yang viral.
Namun, jika kita lihat belakangan ini, sesama cenblu besar pun malah sering saling serang dan menjatuhkan karena alasan personal atau memang membutuhkan drama untuk diangkat.
Mereka mempersoalkan apakah konten A pakai AI atau bukan, konten B cuman ngejar impresi, konten C nirempati/nirmoral dll.
Mereka sibuk saling jegal bukan saling menguatkan. Padahal di ekosistem ini, kita saling membutuhkan.


































