Pinned Tweet
Perahu itu berlalu, melaut terlalu jauh. Nakhoda menerjang badai, menyambut sebuah andai. Semesta pun merajut cerita, tentang Hirosnada Gemathora.
… menatap paras menawan Kidung lekat-lekat, enggan berkedip barang sebentar saja. Bahkan saat makan pun juita di hadapan sangat manis. Senyuman tipis sempat terukir untuk mewarnai roman yang terbiasa tegas.
“Itu,” balasnya pelan, “tadi saya sudah pakai ‘aku’ dan ke depannya …
… akan berusaha sampai terbiasa pakai ‘aku’ setiap kali bicara sama kamu.”
Sebelah tangan yang bebas lantas bergerak ke puncak kepala @savitrijati, mengusap pelan, lalu menyelipkan beberapa helai rambut sang puan ke belakang telinga. “Bagaimana, Cantik? Kamu mau jadi pacarku?”
Adalah kelab malam yang menjadi obat dari segala penat. Gema enggan pulang cepat, maka di sinilah ia berada—seolah-olah berkecimpung di dunia hiburan tak cukup buat pening.
“Ada orang?” dan pertanyaan melayang teruntuk @savitrijati seraya ia tunjuk bangku di samping sang puan.
… kursi kemudi.
Setelah menempatkan diri di balik setir kemudi, Gema langsung menyalakan mesin mobil dan memberikan satu botol kecil air mineral kepada sosok di sampingnya. Tak lupa ia juga membuka botol tersebut terlebih dahulu sebelum botol itu berpindah tangan.
“Minum …
… dulu,” katanya sebelum lekas menenggak habis air mineral di dalam botol berukuran kecil miliknya.
Rasa-rasanya Gema ingin menanggapi kalimat @savitrijati di awal soal Gema yang terburu-buru. Tersenyum kecil, “Saya memang buru-buru,” lalu terkekeh pelan, “takut kamu hilang.”
… batuk, maka dijauhkan wajah dari arem-arem yang disodorkan Kidung kepadanya. Tak lupa ia mendorong dengan sopan arem-arem tersebut agar menjauh.
“Sudah,” kata Gema; menolak menyantap jajanan lebih jauh. “Terima kasih, Kidung.” Meski baru gigit sedikit, setidaknya Gema …
… sudah tahu bagaimana rasa arem-arem.
“Ahem,” dan berdeham sekilas usai batuk, “berarti kamu bersedia jadi pacar saya—eh, maksudnya … pacar aku?”
Belum terbiasa menggunakan ‘aku’ membuat Gema agak khawatir kalimatnya tak terdengar baik. “Kamu mau jadi pacarku, @savitrijati?”
Replying to @savitrijati
Kala tangan Kidung mulai beraksi, Gema lantas mengarahkan seluruh fokus pada jajanan dalam jangkauan sang puan. Kerutan hadir di kening; sarat ia terheran-heran memandang jajanan tersebut. Tampak jelas bahwasanya Gema belum pernah coba arem-arem.
“A,” dan jeda mampir sejenak …
… karena kebingungan perihal harus bagaimana mewujudkan pinta Kidung, pun ia tidak tahu harus menggunakan kata ganti apa untuk menyebut diri sendiri. “Saya sudah terbiasa pakai ‘saya’, Kidung.”
Arem-arem digigit sedikit saja. “Mm, kamu mau saya pakai kata ‘aku’, @savitrijati?”
“Tumben belum tidur, Edo?” tanya Gema seraya menoleh sekilas ke samping. “Besok enggak sekolah?”
Biasanya Gema hanya sendiri; duduk termenung di taman dekat apartemen pribadi, tetapi malam ini ia ditemani oleh @apathiisch. Entah apa yang membuat keduanya belum mampu terlelap.
This Post is from an account that no longer exists. Learn more
… barang sejenak, sebab netra legam beralih memeriksa angka yang tertera pada arloji di pergelangan tangan kiri sebelum akhirnya ia melanjutkan, “jam segini masih kerja?”
Sedikit khawatir, Gema lantas menoleh ke arah insan muda di samping. “Kira-kira Umi sama Ayah pulang jam …
… berapa?”
Walau ia dapati ibu jari @apathiisch diacungkan ke arahnya; pertanda semua aman dan tampak baik, rasa-rasanya tak mampu ia benar-benar menelan fakta tersebut bulat-bulat. Maka dari itu, ia bertanya, “Malam ini kamu mau menginap, enggak?” di apartemen Gema, tentunya.


