Auguste Lomnte retweeted
Replying to @pubity
From a global allocation perspective, it's quite terrible for Sam to have all of those organs. Perhaps we should dismember him
Auguste Lomnte retweeted
Replying to @zhafiraqyla @iceman__xmen
Ini maksudnya gimana? Dukung prinsip mereka secara sepotong2 gitu kah? Dukung Putin krn homophobic? Dukung Trump krn transphobic? Dukung Kim Jong Un krn anti-Israel? Dukung Mamdani krn sesama muslim? Dukung Sanae Takaichi krn sama2 perempuan? Such a weird thing to say 💀
Auguste Lomnte retweeted
Sy perwakilan ViewHers Pamulang menyatakan dukungan penuh kepada idola #ChoiceFeminist kami, Marissa Anita. Maju terus rangkul oligarki sampai bisa duduk di kursi komisaris. Karena pada akhirnya, emansipasi perempuan adalah ketika kita bisa jadi #GirlBoss di atas rakyat sendiri
This Post is from an account that no longer exists. Learn more
Auguste Lomnte retweeted
AYOK TERUS POSTING VIDEO DEMO
Biarkan antek rejim homofobik dengan narasi tolol lgsp bullshitnya berlalu dengan cepat
Auguste Lomnte retweeted
Di halaman depan Koran Kompas, ada foto ironis seperti ini.
"Menyantap Menu MBG di Sekolah yang Rusak."
Auguste Lomnte retweeted
ASN nikah lagi karena istrinya meninggal, trus istri barunya gak dapet pensiun dan anaknya juga gadapet pensiun ya ga make sense lah, masa haknya dibeda bedain, emang anggota DPR mau disamain? kalopun disamain, privilesnya pun beda
Ini sama kaya orang kaya nyinyir ke orang miskin karena harga telor "CUMA" naik 7.000 rupiah: bagi si Kaya, naik segitu kecil, tapi bagi yang hidup UMR kebawah? ya gede lah
Auguste Lomnte retweeted
🚨 Rakyat Papua di Intan Jaya melakukan long march atas kejadian pembantaian beruntun oleh TNI. #PapuaDaruratMiliter
- Ibu Merkina Duwitau & bayi tujuh bulan dalam kandungan meninggal kena peluru TNI nyasar
- Bapak Pendeta Elianus GKII dan Okto Tigau usia 19 tahun tewas ditembak aparat,
- Pastur Gereja Katolik Yanuarius dan 2 pekerja gereja yang mobilnya ditembaki.
This is so heartbreaking 💔💔
#IndonesiaGelap
Auguste Lomnte retweeted
Kepada para guru yang berkampanye membela Nadiem Makarim, saya ingatkan:
Nadiem menghapus pasal Tunjangan Profesi guru dalam draf RUU Sisdiknas 2022. RUU ini didukung oleh influencer papan atas. Cek aja.
Untung dilawan oleh berbagai pihak dan organisasi guru. Akhirnya gagal. Itu alasan saya aktif di x, 2022.
So, kalau anda sekarang adalah guru, menikmati sertifikasi guru, tapi ikut berkampanye untuk kasus Korupsi Nadiem Makarim. Minimal anda malu.
Auguste Lomnte retweeted
Sahabat-sahabatku, ini keliru ya.
Di Indonesia, kelas menengah justru menikmati banyak subsidi yang nilainya besar, meski seringkali tidak mereka anggap sebagai "bantuan sosial".
Ambil contoh, subsidi BBM, subsidi LPG, subsidi listrik, dll.
doi.org/10.5089/979822903237…
This quoted post is unavailable.
Auguste Lomnte retweeted
Replying to @insidefolkative
tempo berani ya meminta maaf atas kesalahan nya ga kayak lu sering banget kan disinformasi WKWKKWKW
Auguste Lomnte retweeted
People have learned a few psychological buzzwords on social media,like "gaslighting," "narcissist," "boundaries," and "toxic", and now they use them to run away from normal human conflict. Sometimes your partner isn't a "toxic narcissist violating your boundaries"; sometimes they are just annoyed, having a bad day, and you are actually the one who was wrong. We have weaponized therapy language to ensure we never have to apologize or compromise.
Auguste Lomnte retweeted
dengan apa yang terjadi di FH UI.
perlu diakui kita sudah terlambat puluhan tahun mencegah yang ‘sudah-sudah’ terjadi, yang demikian telah bercokol dalam birokrasi firma dan lembaga sampai saraf-saraf otak pria FH di Ibukota bahkan di Indonesia.
kita terlambat bertanya kenapa Lawyer tersohor hobi pamer perempuan bak trophy
kita terlambat bertanya kenapa Lawyer papan gilas hobi pamer batu cincin dan PDH berbintang
kita terlambat bertanya…
tapi tidak terlambat berbenah.
Auguste Lomnte retweeted
Kritik rekam jejak tokoh sejarah itu keniscayaan; kesalehan kita mestilah pada nilai. Namun, mencabut Sukarno dari kondisi materialnya & mereduksi sejarah revolusi demi punchline maskulinitas hanyalah kemalasan analitis—ketidakadilan sejak dalam pikiran.
Auguste Lomnte retweeted
Jam orang lain istirahat, kamu justru bertahan. Saat kota terlelap, kamu tetap bekerja tanpa sorotan. Shift malam itu bukan sekadar jam kerja—itu soal melawan kantuk, melawan lelah, demi tanggung jawab yang tak bisa ditunda.
Sering tak terlihat, jarang dihargai. Tapi tanpa kalian, banyak hal berhenti berjalan. Hormati mereka yang bekerja saat kita tertidur.
Auguste Lomnte retweeted
Aneh ya. Setiap bicara efisiensi, yang dipangkas selalu buruh. Begitu perusahaan atau negara bicara penghematan, yang pertama dikorbankan: tenaga kerja.
PHK. Pengurangan upah. Pemotongan fasilitas. Sementara yang benar-benar boros? Jarang sekali disentuh.
Biaya tinggi di atas tetap aman. Keputusan salah tidak pernah dievaluasi. Tapi buruh diminta “mengerti kondisi”. Ini efisiensi… atau cara paling mudah mengorbankan yang paling lemah?
Kalau logikanya penghematan, kenapa tidak dimulai dari yang benar-benar besar dampaknya? Karena realitanya, memotong buruh itu paling cepat. Tapi juga paling tidak adil.
Efisiensi yang sehat itu memperbaiki sistem, bukan sekadar mengurangi orang.
Auguste Lomnte retweeted
Negara butuh tenaga kerja. Tapi pintu ditutup dari dua arah. CPNS tidak dibuka. PPPK dirumahkan.
Di satu sisi, jutaan orang menunggu kesempatan kerja di sektor publik. Di sisi lain, yang sudah bekerja justru terancam kehilangan pekerjaan karena alasan keuangan daerah.
Katanya, negara kekurangan tenaga pelayanan,
tapi pekerjanya justru dikurangi. Guru, tenaga kesehatan, administrasi; mereka bukan beban.
Mereka adalah tulang punggung layanan publik.
Kalau logikanya anggaran, pertanyaannya, kenapa yang pertama dikorbankan selalu pekerja? Jika ini dibiarkan, dampaknya bukan hanya PHK massal. Tapi juga turunnya kualitas pelayanan untuk masyarakat.
Ini soal efisiensi… atau salah prioritas?
Karena kalau negara mulai menghemat dengan cara mengorbankan pekerjanya, yang runtuh bukan hanya lapangan kerja, tapi kepercayaan publik.
Auguste Lomnte retweeted
Kenapa tiap kali ada partai, serikat, atau organisasi yang hidup dari iuran anggota sendiri, langsung dicap “mencari cuan”? Seolah itu dosa.
Padahal iuran itu tanda kemandirian. Bukan minta-minta ke pengusaha, oligarkhi, bukan bergantung pada negara. Justru lebih bersih, lebih independen.
Lucunya, yang didanai oligarki dianggap wajar. Yang disokong uang sendiri malah dicurigai.
Mau organisasi kuat tapi tanpa biaya? Mau perjuangan tapi gratis? Itu namanya mimpi.
Lebih bahaya mana—organisasi yang dibiayai anggotanya, atau yang diam-diam dibiayai pemodal besar?




































