Daniel Prasatyo retweeted
Baru balik dari bioskop. Akhirnya film gw yg ini premiere juga. Go and watch it in theater near you,starting from 29th of Oct 2026 – at Pancoran, Indonesia
Daniel Prasatyo retweeted
💕+🔁 Retwit appreciated!]
OPEN PO FOR OTS only/PICK UP
"Fandomnya apa kak?"
"MEN, PRIA, AND GAY SHIT!"
I am selling Original Arts, Drag Race Fan Merchs, and Some ZZZ Boys.
Untuk PO, DM aja yaa ❤️❤️
Daniel Prasatyo retweeted
kamu tidak melihat bukan berarti tidak terjadi
Hampir 2 tahun tinggal di Bali, saya jarang sekali melihat warga Bali turun ke jalan utk berdemonstrasi. Sungguh "tenang" dan "damai".
Satu-satunya protes yg saya ingat terjadi beberapa bulan lalu, saat Pemprov menutup TPA Suwung. Bentuknya pun simbolik: ratusan truk sampah berjejer memadati ruas jalan depan Kantor Gubernur. Tanpa bakar ban, orasi menggelegar, apalagi tembakan gas air mata dari petugas pengamanan.
Banyak warga Bali bilang, ketenangan ini perlu dijaga karena ekonomi Bali sangat bergantung pada pariwisata. Situasi harus tetap kondusif & damai. Suka atau gak, Bali memang faktanya adalah gateway through which the world sees Indonesia.
Lalu terjadilah krisis BBM beberapa hari terakhir ini. Lagi-lagi, ga ada demonstrasi besar2an atau kemarahan yg tumpah ke jalan.
Saya paham pentingnya menjaga ketenangan. Tapi semoga ketenangan ini bukan berarti menerima semua kebijakan begitu saja tanpa check & balance.
Dalam negara demokrasi, every citizen has the right & responsibility to help shape policymaking. Mengkritik pemerintah bukan berarti merusak kedamaian. Justru itu bagian dari menjaga demokrasi tetap hidup.
Maybe something to reflect on.
Salam damai ya teman2ku warga Bali.
Daniel Prasatyo retweeted
sebenernya paling melelahkan itu kalau nonton orang akting jadi orang bali.
i was like, even jeleme paling desa je sing care keto ngomongne.
mereka itu melakukan hal yang orang jakarta kira orang bali seperti itu. 🥲
Daniel Prasatyo retweeted
Pesan satuan bisa, dijemput borongan tentu boleh. Japri wa.me/628819590569 untuk cek detail/ pesan. Terima kasih 🙏
Daniel Prasatyo retweeted
Kakak-kakak X, boleh bantu RT nggak? Hehe
aku teh kan jualan beskap yaa, monggo yang lagi cari-cari beskap asli (bukan kemeja bentuk beskap) bisa cek jualanku ya di IG @AcukLa2ki atau bisa cek dan langsung checkout via oren link-nya dibawah ya
id.shp.ee/dmpCyGDc
Daniel Prasatyo retweeted
It should be understood that Abrahamic religions as institutions are inherently oppressive systems towards queerness. At the same time, religious beliefs are also important for many queers. The two can co-exist, but under one condition: giving grace.
Daniel Prasatyo retweeted
Sorry but “kalau ada apa2 jgn sendirian ya” should mean: mau dengerin cerita, bantu sesuai kapasitas, temenin/cariin profesional.
Kalo dituntut handle tantrum, marah2, banting barang, itu berbahaya. Expecting ordinary people to put themselves at risk of being killed is entitled.
Daniel Prasatyo retweeted
Menyembah tuhan dengan cara menyakiti sesama manusia itu konsepnya unik banget sih.
Daniel Prasatyo retweeted
What happened to me is bigger than one artist or one stage. When the billionaire class can decide which voices are allowed on stage and which ones are too dangerous to hear, everyone should be paying attention.
So we're going on tour. All proceeds will benefit organizations supporting the Palestinian people and movement.
Sign up at macklemore.com
Daniel Prasatyo retweeted
beberapa minggu lalu gak sengaja lihat mantan lari, lihat dari belakang (masih hapal siluet dan punggungnya), lalu putar balik motor memastikan, ada kaget "deg", tapi ya biasa aja. tadi juga lihat mobilnya (masih ingat plat), tapi ya biasa aja.
Daniel Prasatyo retweeted
Replying to @daprast
lihat fotonya dan ga ada rasa apa2, ga ada rasa sakit hati yg muncul, flat aja
Daniel Prasatyo retweeted
MOCH. SUBCHI AZAL TSANI (BECHI)
Terpidana kasus kekerasan seksual yang dapat pembebasan bersyarat 🤬
- Putra pendiri pesantren, jadi pengajar & wakil rektor di pesantren milik keluarga (Jombang, Jatim)
- Tersangka sejak 2019 atas laporan kekerasan seksual terhadap santriwati di pesantren milik keluarganya
- Korban menyebut kekerasan berlangsung bertahun2 sejak usia 15, termasuk pemerkosaan, pemaksaan, penyekapan, & intimidasi setelah mencoba kabur
- Ayah pelaku sempat menolak penyerahan anaknya ke polisi & menyebut perkara “fitnah keluarga”
- Ibu pelaku minta korban cabut laporan dengan alasan “tidak ada apa2, urusan keluarga”
🤬🤬
- Status DPO berbulan2 karena dilindungi keluarga & pendukung
- Ditangkap Juli 2022 setelah pengepungan besar2an
- Pemerintah sempat cabut izin operasional pesantren, tetapi kemudian dikembalikan
- Sidang tertutup, tapi korban diperiksa berjam2 dengan pertanyaan yang menyakitkan (reviktimisasi)
- Saksi/korban sempat diintimidasi & satu saksi dilaporkan dianiaya pendukung (LPSK turun tangan)
- Jaksa menuntut 16 tahun untuk perkosaan, tapi hakim menolak Pasal 285 (pemerkosaan) & memakai Pasal 289 (pencabulan)
- Sidang di PN Surabaya memvonis 7 tahun penjara (November 2022), tuntutan jaksa sebelumnya 16 tahun, vonis dikuatkan di tingkat banding (Februari 2023)
- Para korban & pendukung menilai hukuman terlalu ringan
🤬🤬🤬
- Dapat pembebasan bersyarat 15 Agustus 2025 karena Kementerian Imigrasi & Pemasyarakatan menyatakan ia sudah jalani 2/3 masa pidana berkat remisi
- Seharusnya, tanpa remisi, 2/3 hukuman baru tercapai sekitar Maret 2027 & hukuman penuh berakhir 2029
- Karena statusnya belum bebas murni, diwajibkan untuk melapor secara berkala setiap bulan hingga tahun 2028 untuk memastikan tidak melakukan pelanggaran hukum atau tindak pidana lagi selama masa percobaan
- Para korban & saksi (yang dilindungi LPSK) mengaku tidak diberi tahu soal pembebasan ini, terkejut & marah
- Mereka & pendamping menilai ini merugikan hak korban
- Beberapa mantan santri menyampaikan tuduhan kekerasan seksual tambahan yang tidak masuk vonis utama
🤬🤬🤬🤬
- Pembuktian di pengadilan memihak standar lama, bukan pengalaman korban
- Unsur perkosaan dinilai “tidak terbukti” antara lain karena visum dilakukan belakangan (2019 untuk peristiwa 2017)
- Standar itu mengabaikan kenyataan banyak korban kekerasan seksual di lembaga tertutup baru berani lapor bertahun2 kemudian
- Hakim tetap mengakui ada perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan, tetapi menurunkan kualifikasi hukumnya
- Pemerkosaan, penetrasi, pemaksaan seksual dikecilkan menjadi “cabul”
- Alasan hakim meringankan vonis = bias gender
- Hakim meringankan karena pelaku “masih muda”, tulang punggung keluarga, punya anak kecil, sopan di sidang, belum pernah dihukum
- Kebutuhan anak laki2 pelaku ditimbang lebih besar daripada penderitaan jangka panjang anak perempuan korban
- Status tokoh agama disebut memberatkan, tetapi tidak dibuktikan dengan vonis maksimal
- Komnas Perempuan menyebut pola di pesantren: patriarki dibungkus agama, tokoh dikultuskan, kepatuhan diminta mutlak, korban diancam jika bicara
🤬🤬🤬🤬🤬
Ini contoh kasus kekerasan berbasis gender yang ditopang hierarki agama, keluarga, massa, & negara. Korban diminta diam demi nama baik lembaga. Ketika mereka bicara, hukum turunkan kualifikasi kejahatan, beri vonis ringan, potong masa tahanan, pulangkan pelaku, ga ada pemberitahuan layak kepada para perempuan yang jadi korban, yang alami trauma mendalam.
SEMOGA KAU SEGERA KENA KARMA BURUK DI DUNIA & MEMBUSUK NANTI DI NERAKA TERDALAM.
TW // PEDOFILIA 🤬
Masih inget kasus ini ga temen-temen? Mengutip dari tulisan BBC News, si pelaku yakni Moch Subchi Azal Tsani (Bechi) yg juga putra kiai pendiri ponpes Shiddiqiyyah, malah dibebaskan lebih awal karena beberapa hal seperti berkelakuan baik dan aktif mengikuti program pembinaan 😅
Fyi, pelaku divonis tujuh tahun pada tahun 2022 yang seharusnya baru mencapai dua pertiga masa hukumannya sekitar Maret 2027, dan menyelesaikan hukumannya pada 2029.
Daniel Prasatyo retweeted
Replying to @daprast
1. Udah ga kzl
2. Udah ga sakit hati
3. Udah berdamai dengan keadaan
4. Udah bisa enjoy life
5. Udah bisa syenang tanpa syarat
Daniel Prasatyo retweeted
MENELANJANGI RINDU DENGAN BANYAK PERTANYAAN
Usai tatapmu menelanjangi rindu,
detik atau detak pertemuankah
yang lebih dulu kautunggu?
Lalu rindu apa yang kaupertuhankan
sementara tak mampu kaupertahankan?
Apakah rindu selalu tentang merasuk
tanpa pernah merusak?
Bukankah rindu untuk menceritakan,
bukan rupa dari sekadar mencitrakan?
Jikalau perihal jarak,
rindu sedianya merekatkan
ataukah meretakkan?
Mungkinkah rindu lebih nikmat
jika dirasakan, bukan diresahkan
terlebih direbahkan?
Saat rindu menjelma musim yang baru
benarkah bulumata akan tanggal
secara tunggal?
Jika sebentar mekar, sebentar-sebentar mekar
apakah rindu merupa bunga yang tak sadar
dan tak pernah bersabar?
Sepedih apa air mata seseorang
yang memberi rindu seutuhnya
namun dibalas sebutuhnya?
Bisakah rindu disebut perjalanan
yang melintas dari mata ke maya,
dan ditempuh dalam enggan?
-A.W.-
Daniel Prasatyo retweeted
Postingan buku, bagi yang minat bisa wa.me/628819590569 untuk tanya kesedian dan juga pesan. Kelengkapan buku disertakan di kolom komentar. 🙏
Daniel Prasatyo retweeted
Thank you teman2 yang udah ikutan sesi gambar bareng offline hari ini ╰(*´︶`*)╯
Kali ini ada yang berbeda dari sesi biasanya, yaitu bermain game Exquisite Corpse: kolaborasi menggambar bareng secara estafet. Hasilnya seru & lucu banget!
Daniel Prasatyo retweeted
Replying to @daprast
Seyogyanya bisa,
namun demikian manusia bersama kelompoknya bisa menjadi sekawanan orang berdasarkan keyakinannya bahwa kelompoknya harus menjadi besar dan superior, karenanya jika semakin sedikit menjadi mudah ditumpas dan dihabisi ~ dari masa ke masa yang tercatat atau tidak – at Kebayoran Baru, Indonesia





































