HILMI RUMI GUMIRA. retweeted
α
α
α
α
α
π πππππ πππ§ππ₯ππ¦π βββββββ π’Φ΄ΰ»π¦
α
α
α
α
Buka setiap hari, kecuali hari kiamat
α
α
α
α
(setengah hari). . . . ദΰ΅ΰ΄¦ΰ΄Ώ( β-β .α
α
HILMI RUMI GUMIRA. retweeted
βAku laporin ke ibu aku, kalau kakak pelit!β
βNggak takut. Suruh dia beliin lah.β
βKata ibu, harus saling berbagi!β
βKan itu kata ibu kamu, aku nggak punya ibu, kenapa aku harus berbagi.β
Sialan. Anak itu malah menangis semakin kencang. Kenapa, sih?
HILMI RUMI GUMIRA. retweeted
βPadahal gue cuma menolak ngasih chiki yang ada di tangan gue, kenapa dia harus sampe pamer kalau dia punya ibu?β Hatthaka menggerutu pelan, tetap keukeuh tak ingin memberikan cemilannya.
Ada juga, seharusnya dia yang menangis kencang karena tak punya Ibu.
HILMI RUMI GUMIRA. retweeted
Seporsi kekalahan baginya, melihat anak kecil menangis kencang berteriak memanggil ibunya.
βIbu β¦ ya?β
HILMI RUMI GUMIRA. retweeted
Bila menolak, pukulan para pengasuh jatuh menggantikan belas kasih, walau tubuh kecilnya sedang rapuh dan nyaris tak sanggup berdiri.
Genap usianya sepuluh tahun, ia memilih pergi. Ke mana kaki itu akan membawanya, ia sendiri tak tahu. Ia hanya ingin menjauh dari tempat itu.
HILMI RUMI GUMIRA. retweeted
Alavi. Anak siapakah dia? Siapa perempuan yang melahirkannya? Ia sendiri tidak pernah tahu.
Ingatan pertamanya berawal dari panti asuhan yang tak pernah mengenal kehangatan. Sejak usia empat tahun, tangan mungilnya sudah dipaksa memikul pekerjaan kasar.
HILMI RUMI GUMIRA. retweeted
Pada akhirnya, semua akan terbuai oleh kebahagiaan yang tidak kekal itu.
Tapi, memangnya kenapa? Sekalipun kau berkata samsara ini tak berujung, hidup sebagai seorang manusia sangatlah singkat.
Biarlah aku berbahagia sejenak di detik ini.
HILMI RUMI GUMIRA. retweeted
Entah sampai kapan aku harus terus bersikeras mencengkram, hanya karena diri ini takut dengan konsep 'terjatuh'.












