Ichsananda D retweeted
Sebuah seni untuk melepaskan siapa pun yang ingin pergi, tanpa perlu ada drama
Ichsananda D retweeted
Dipendam terus, jadi beban. Mau mengeluh, takut dibilang enggak bersyukur. Makin tua makin enggak bebas cerita
Ichsananda D retweeted
Hanif terus melihat lelaki itu sampai akhirnya ia sadar ada gadis kecil sedang memandanginya, ia menoleh terseyum kepada Hanif, tak lama, bapak keluar dengan membawa kain-sajadah yg sudah dilipat tempat menyimpan gumpalan rambut tersebut, ia menyerahkan benda itu kepada si lelaki
Ichsananda D retweeted
Teruntuk orang-orang yang suka berprasangka buruk sama orang
Teteplah berprasangka buruk, karna ngga semua orang itu baik
Ichsananda D retweeted
Ternyata, seseorang yang paling kita perlakukan enggak adil adalah diri sendiri. Udahan, yuk. Kita berhak bahagia
Ichsananda D retweeted
Kita diminta ngejar cita-cita, tapi enggak dikasih tahu kalau rintangannya banyak banget. Kita diminta ngikutin kata hati, tapi enggak dikasih tahu kalau nyasar harus gimana. Kita diminta cepat nikah, tapi enggak dikasih tahu kalau nyari pujaan hati itu risikonya sakit hati
Ichsananda D retweeted
Jadilah tempat yang aman untuk bercerita. Yang bisa mendengarkan tanpa menghakimi, yang bisa memberi masukan tanpa merendahkan.
Tanpa sibuk cari teknik “memancing”, yuk belajar menjadi tempat aman untuk bercerita
Ichsananda D retweeted
"kita kan gak pernah tau apa yang sedang dilalui seseorang. makanya hal yg kita anggap sepele, buat dia bisa jd masalah besar. udah bukan waktunya pake alasan: ah, tapi keliatannya dia baik2 aja tuh. yaaa.. kan banyak yang nggak kelihatan"
— yang mau senang bukan cuma kamu doang
Ichsananda D retweeted
lo akan nyaman dengan kesendirian, sampe akhirnya lo sadar bahwa ada beberapa hal yang lebih menyenangkan kalau dilakukan berdua
Ichsananda D retweeted
“Kalau dunia harus mengikuti aturanmu, besok juga kiamat, Nan.”
“Ya makanya aku nggak maksa.”
“Kamu juga nggak perlu maksa diri kamu sendiri, sih.”
“Untuk ikutin aturan dunia?”
“Untuk ikutin aturan yang kamu buat.”
Bab 4 sudah terbit di rintiksedu.id. Selamat membaca
Ichsananda D retweeted
salah satu hal yang telat gue sadari adalah, ketika seseorang berdiri di batas abu-abu antara iya dan ngga, sudah jelas jawabannya; ngga.
karena kalau jawabannya iya, lo ga akan pernah dibikin bingung dan bertanya-tanya.
Ichsananda D retweeted
Punya masalah, tapi enggak tahu harus berbagi sama siapa. Sama kawan, takut dibocorin. Sama sahabat, takut dihakimin. Sama medsos, takut disangka caper. Akhirnya cuma bisa memendam, sambil bilang ke diri sendiri, “Nanti juga sembuh.” Padahal enggak sembuh. Cuma pura-pura sembuh
Ichsananda D retweeted
Selalu nyari siapa yang bisa disalahin. Enggak jarang juga diri kita sendiri yang kita salahin. Padahal, yang terpenting bukan saling menyalahkan. Tapi saling membetulkan
Ichsananda D retweeted
Pagi ini mbak Esti wa tukang sayur, wa mbak Esti dibalas “maaf mbak saya meninggal trus kirim poto jenazahnya sendiri dibalut kafan, trus kalimat dilanjutkan “maaf libur dulu “.Aku yakin tukang sayur beneran meninggal hp dipegang istrinya knpa sang istri tidak memakai kata ganti.
Ichsananda D retweeted
Guys bentar” aku crita gini kok tiba kabut turun. Apa ada hawa negatif ya. Bentar ya aku harus netralisir dl. Aku harus mangan mie sek ben g modar.

















